Jika dikelola dengan baik, Danantara dapat berkembang menjadi Green Development Fund yang mendanai transisi energi, kendaraan listrik, hilirisasi hijau, restorasi ekosistem, dan perdagangan karbon. Dengan demikian, PFII berpotensi berkembang tidak hanya sebagai pusat keuangan konvensional, tetapi juga sebagai Green Finance Hub terkemuka di Asia Tenggara.
Memahami Risiko
Di balik peluang tersebut, pembentukan Danantara tetap menghadapi sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan. Pertama, politisasi investasi. Literatur political economy menunjukkan bahwa lembaga investasi negara rentan terhadap intervensi politik, terutama ketika tujuan komersial bercampur dengan agenda pembangunan jangka pendek (Musacchio & Lazzarini, 2014). Kedua, konsentrasi kekuasaan ekonomi yang berpotensi memunculkan fenomena too big to fail maupun too interconnected to fail (Laeven, Ratnovski, & Tong, 2016). Ketiga, konflik kepentingan antara fungsi sebagai pemegang saham BUMN, investor, pengelola dana pembangunan, dan mitra investasi swasta (OECD, 2015). Keempat, keterbatasan transparansi. Linaburg dan Maduell (2010) menunjukkan bahwa semakin transparan suatu SWF, semakin rendah premi risiko yang diminta investor internasional.
Pentingnya Tata Kelola
Berbagai peluang dan risiko tersebut pada akhirnya bermuara pada satu aspek utama, yakni tata kelola. Keberhasilan Danantara tidak ditentukan oleh besarnya aset yang dikelola, melainkan oleh kualitas tata kelola yang diterapkan. Karena itu, Danantara perlu mengadopsi praktik terbaik global, termasuk menerapkan Santiago Principles, membentuk Dewan Pengawas Independen, memisahkan mandat komersial dan pembangunan (dual mandate), serta menerapkan standar pelaporan internasional seperti IFRS, GRI, TCFD, dan ISSB.
Pada saat yang sama, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan perlu membangun kerangka pengawasan terintegrasi yang mencakup stress testing, pengawasan konglomerasi, recovery and resolution plan, serta pemantauan risiko sistemik secara berkala. Selain itu, pemerintah perlu segera menyusun roadmap operasional PFII yang jelas, lengkap dengan target, tahapan implementasi, indikator keberhasilan, dan desain kelembagaan yang kredibel.
Penutup
Keberhasilan PFII sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia membangun Danantara sebagai institusi jangkar yang kredibel, profesional, dan berorientasi jangka panjang. Namun, keberhasilan tersebut juga bergantung pada kemampuan membangun ekosistem keuangan nasional yang terintegrasi. Dalam ekosistem tersebut, Bank Himbara berpotensi berkembang menjadi national financial Champions yang mendukung ekspansi investasi Danantara, memperdalam pasar keuangan, dan memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan keuangan regional maupun global.


