Dibandingkan negara-negara tersebut, Indonesia belum memiliki institusi investasi negara yang menjalankan fungsi-fungsi tersebut secara terintegrasi. Karena itu, pembentukan Danantara dapat dipandang sebagai upaya untuk mengisi kekosongan kelembagaan tersebut.
Salah satu kelemahan mendasar pasar keuangan Indonesia adalah terbatasnya investor institusional domestik berkapasitas besar dan berorientasi jangka panjang. Akibatnya, banyak proyek strategis nasional masih bergantung pada pembiayaan perbankan dan modal asing sehingga rentan terhadap volatilitas global.
Dalam konteks ini, Danantara diharapkan berperan sebagai investor jangkar bagi pembangunan infrastruktur, hilirisasi sumber daya alam, transisi energi, pasar karbon, private equity, venture capital, hingga dana infrastruktur nasional. Kehadiran investor domestik yang kuat tidak hanya memperluas sumber pembiayaan jangka panjang, tetapi juga meningkatkan kredibilitas pasar dan memperkuat kepercayaan investor global terhadap Indonesia.
Transformasi Universal Banking
Keberadaan pusat keuangan internasional juga mensyaratkan bank yang mampu menyediakan layanan keuangan terpadu. Bank global seperti HSBC, DBS, BNP Paribas, atau Deutsche Bank tidak hanya menyalurkan kredit, tetapi juga menyediakan layanan investment banking, pengelolaan aset, pembiayaan perdagangan internasional, transaksi derivatif, treasury, wealth management, dan jasa lindung nilai. Indonesia telah bergerak ke arah tersebut melalui konsolidasi perbankan dan penguatan konglomerasi keuangan, meskipun transformasi menuju universal banking masih berlangsung secara bertahap.
Sebagai pengelola aset negara berskala besar, Danantara akan membutuhkan berbagai layanan seperti penerbitan obligasi global, sindikasi kredit, transaksi derivatif, pengelolaan risiko nilai tukar, dan manajemen treasury. Kebutuhan ini berpotensi mendorong industri perbankan nasional meningkatkan kapasitas menuju integrated financial services.
Transformasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran strategis Bank Himbara—Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN. Mungkin ini salah satu harapan Presiden ketika memanggil seluruh direksi bank Himbara. Di berbagai pusat keuangan dunia, keberadaan bank domestik berskala besar yang mampu beroperasi secara regional bahkan global merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan sebuah financial hub. Singapura didukung oleh DBS, OCBC, dan UOB. Hong Kong memiliki HSBC dan Bank of China Hong Kong, sedangkan Abu Dhabi didukung oleh First Abu Dhabi Bank (FAB).
Bank-bank tersebut tidak hanya menjalankan fungsi intermediasi tradisional, tetapi juga bertindak sebagai national financial Champions yang menyediakan pembiayaan proyek, investment banking, treasury, transaksi internasional, pengelolaan aset, hingga wealth management.


