Di Indonesia, Bank Himbara memiliki posisi yang sangat strategis. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa hingga akhir 2025 total aset kelompok Himbara diperkirakan melampaui Rp11.000 triliun atau mendekati separuh aset industri perbankan nasional. Skala ini menjadi fondasi kuat bagi pembentukan institusi perbankan berkelas regional.
Karena itu, Danantara dapat menjadi katalis transformasi Bank Himbara menuju model universal banking. Pertama, Bank Himbara dapat menjadi mitra utama Danantara dalam pembiayaan proyek strategis melalui sindikasi kredit, project finance, penerbitan obligasi, dan pembiayaan infrastruktur jangka panjang. Kedua, kebutuhan Danantara terhadap layanan treasury, pengelolaan likuiditas, transaksi derivatif, pengelolaan devisa, dan manajemen risiko akan mendorong Bank Himbara memperkuat bisnis treasury dan global markets. Hal ini berpotensi mempercepat pendalaman pasar uang, pasar valas, dan pasar derivatif domestik. Ketiga, Bank Himbara dapat menjadi tulang punggung pengembangan regional treasury centre. Bank Mandiri dan BNI yang telah memiliki jaringan internasional dapat diperkuat untuk mendukung transaksi lintas batas, cash management, trade finance, dan pengelolaan likuiditas regional. BRI dapat memperluas inklusi keuangan regional melalui pembiayaan UMKM dan ekosistem digital, sedangkan BTN berperan dalam pengembangan pembiayaan perumahan dan pasar sekuritisasi aset. Keempat, dalam jangka panjang PFII memerlukan setidaknya satu atau dua bank nasional yang mampu berkembang menjadi Domestic Systemically Important Universal Banks (DSIUB) atau bahkan regional champion banks. Misalkan seperti Bank Mandiri dan BNI yang sudah memiliki skala aset, jaringan internasional, pengalaman pembiayaan korporasi, serta kapasitas transaksi global yang terus berkembang.
Meski demikian, penguatan Bank Himbara harus dilakukan secara hati-hati. Konsentrasi aset yang terlalu besar pada kelompok bank tertentu dapat meningkatkan risiko too big to fail dan too interconnected to fail. Oleh sebab itu, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan perlu memperkuat pengawasan konglomerasi keuangan, stress testing, serta menyiapkan recovery and resolution plan yang memadai.
Potensi Green Finance Hub
Selain ditopang oleh kekuatan institusi dan perbankan, masa depan pusat keuangan dunia juga semakin dipengaruhi oleh agenda keberlanjutan. International Energy Agency (IEA) memperkirakan kebutuhan investasi global untuk transisi energi mencapai lebih dari US$4 triliun per tahun hingga 2030, sementara pasar obligasi hijau global telah melampaui US$3 triliun menurut Climate Bonds Initiative.
Indonesia memiliki posisi strategis dalam agenda tersebut karena memiliki cadangan nikel terbesar dunia, potensi energi terbarukan lebih dari 3.600 GW, kekayaan hutan tropis, dan potensi pasar karbon yang besar.


