Poin Penting
- Danantara dinilai dapat menjadi sumber baru pertumbuhan ekonomi melalui pengelolaan aset negara yang terintegrasi.
- Investasi perlu diarahkan ke sektor strategis dengan multiplier effect tinggi dan tidak menimbulkan crowding out.
- Keberhasilan Danantara perlu diukur dari manfaat ekonomi jangka panjang, bukan hanya besarnya aset dan keuntungan investasi.
Jakarta – Pengelolaan aset negara melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
Integrasi aset dan investasi negara yang sebelumnya tersebar dinilai membuka peluang bagi Danantara untuk mengelola aset secara lebih strategis sebagai portofolio investasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, mengatakan perubahan dari pengelolaan aset yang tersebar menuju orkestrasi yang lebih terintegrasi dapat menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas aset negara sekaligus mempercepat agenda pembangunan. Namun, Danantara perlu memiliki strategi investasi yang jelas.
Baca juga: DSI Telah Kelola Devisa Ekspor USD14 Miliar dalam 2 Bulan
Menurutnya, aset badan usaha milik negara (BUMN) perlu dipandang sebagai satu portofolio yang dapat dioptimalkan melalui pengembangan, konsolidasi, restrukturisasi, maupun penataan aset yang kurang produktif.
Pendekatan tersebut dapat menciptakan sinergi, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Investasi Harus Beri Multiplier Effect
Dipo menilai pengelolaan aset tersebut perlu diarahkan ke sektor-sektor dengan multiplier effect tinggi. Investasi strategis, menurutnya, tidak cukup hanya dinilai dari financial return, tetapi juga dari kemampuannya meningkatkan produktivitas, mendorong industrialisasi, memperkuat rantai pasok, dan membangun kapasitas nasional.
“Investasi strategis itu tidak bisa hanya dilihat dari nominalnya. Yang lebih penting adalah seberapa cepat investasi tersebut menghasilkan multiplier effect, menciptakan lapangan kerja formal, meningkatkan produktivitas, dan mendorong industrialisasi,” jelas Dipo, dalam keterangannya, dikutip Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca juga: DPR Minta Danantara Buka Kinerja dan Utang BUMN, Tak Sekadar Pangkas Perusahaan
Ia mengatakan sejumlah agenda yang tengah dikembangkan Danantara mencerminkan pendekatan tersebut, mulai dari hilirisasi di berbagai sektor hingga investasi dan kerja sama strategis di dalam maupun luar negeri.
Investasi tersebut diharapkan tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan industri, serta peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia.
Menjembatani Kebijakan Fiskal dan Investasi
Selain berperan sebagai orkestrator aset negara, Danantara dinilai dapat melengkapi kapasitas fiskal pemerintah dalam mendukung pembiayaan pembangunan.
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8–6,5 persen pada 2027 dan 8 persen pada 2029 membutuhkan investasi produktif dalam skala lebih besar. Optimalisasi aset negara serta mobilisasi modal swasta dan investor global dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk mendukung target tersebut.
Dipo menilai pendekatan itu menempatkan Danantara sebagai jembatan antara aset negara, kebutuhan investasi, dan arah kebijakan pembangunan pemerintah.
“Ketika aset negara dikelola secara terintegrasi dan dihubungkan dengan strategi investasi yang jelas, Danantara dapat membantu memperluas sumber pembiayaan pembangunan tanpa menjadikan APBN sebagai satu-satunya instrumen penggerak pertumbuhan,” kata Dipo.
Baca juga: DIM Masih Koordinasi dengan OJK dan BEI Terkait Porsi Saham Demutualisasi
Karena itu, Dipo mengingatkan pentingnya pemilihan sektor investasi. Menurutnya, Danantara sebaiknya memprioritaskan industri strategis yang belum dapat dimasuki secara optimal oleh swasta karena membutuhkan modal besar, memiliki risiko tinggi, atau memerlukan dukungan jangka panjang.
Sebaliknya, investasi pada sektor yang telah memiliki banyak pemain swasta berpotensi menimbulkan crowding out.
Investasi pada sektor yang menjadi bottleneck bagi industri lain, seperti penyediaan bahan baku dan komponen untuk hilirisasi, dinilai dapat memberikan multiplier effect yang lebih besar.
Dengan demikian, modal negara tidak hanya menghasilkan return investasi, tetapi juga berpotensi menarik investasi lanjutan, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing industri nasional.


