Poin Penting
- DIM telah menyampaikan minat untuk menjadi pemegang saham BEI.
- Besaran porsi saham masih dibahas bersama OJK dan manajemen BEI.
- Investasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan pasar modal dan meningkatkan kapitalisasi pasar.
Jakarta – PT Danantara Investment Management (DIM) masih berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait besaran porsi saham yang akan diambil dalam proses demutualisasi bursa.
Sebelumnya, BEI menyampaikan telah mengantongi calon investor potensial dalam proses demutualisasi, yakni Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melalui DIM.
Managing Director Global Business Development, Corporate Finance & Investment DIM, Djamal Attamimi, mengatakan pihaknya telah mengajukan surat dan menyatakan minat untuk menjadi pemegang saham BEI.
Baca juga: Bos Danantara Masih Diskusi dengan OJK soal Mekanisme Demutualisasi BEI
Meski demikian, besaran porsi saham yang akan dibeli Danantara masih dalam proses diskusi dengan OJK dan manajemen BEI.
Menurut Djamal, penentuan porsi saham akan mempertimbangkan kebutuhan permodalan dan pengembangan infrastruktur. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kapitalisasi pasar BEI.
“Betul, kalau (presentasi) itu masih kami diskusikan, kami masih berkoordinasi dengan OJK dan manajemen BEI. Namun penentuan persentasenya juga melihat kebutuhan permodalan, pengembangan infrastruktur yang perlu dilakukan,” kata Djamal kepada media dikutip, Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca juga: OJK Beberkan Perkembangan Rancangan Aturan Demutualisasi BEI
Selain meningkatkan kapitalisasi pasar, investasi tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor global untuk menanamkan modal di pasar modal Indonesia.
“Tapi nanti tentunya penentuan presentasinya itu juga melihat kebutuhan permodalan, pengembangan infrastruktur yang perlu dilakukan supaya kapitalisasi pasarnya bisa meningkat dengan membawa investor dari luar negeri lebih banyak dan juga dari partisipasi dari investor dalam negeri,” imbuhnya.
Kapitalisasi Pasar Modal Masih Berpeluang Tumbuh
Djamal menilai peluang peningkatan kapitalisasi pasar modal Indonesia masih terbuka lebar.
Saat ini, nilai kapitalisasi pasar saham Indonesia diperkirakan setara sekitar 50-60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara di Malaysia dan India, nilai kapitalisasi pasarnya telah mencapai sekitar 100-120 persen dari PDB.
Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang bagi peningkatan kapitalisasi pasar modal Indonesia ke depan. (*)
Editor: Yulian Saputra


