Poin Penting
- Selat Hormuz diklaim Donald Trump sebagai wilayah AS.
- Trump menyebut AS mempertahankan “kendali penuh” atas kawasan sekitar selat.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun sekitar 90 persen sejak konflik berlangsung.
Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengeklaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS. Pernyataan tersebut disampaikan saat Trump menghadiri kampanye politik di Carolina Selatan.
“Saat ini saya menganggap Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika,” kata Trump, dikutip Antara, Sabtu (22/8). Pernyataan itu disampaikan dalam rapat umum untuk mendukung Darline Graham.
Darline Graham merupakan saudara mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham. Trump sebelumnya juga mengisyaratkan klaim tersebut setelah AS mengalahkan Iran.
Baca juga: Selat Hormuz Memanas, Iran Siapkan RUU Larang Kapal Negara Musuh Masuki Teluk
Trump Klaim Selat Hormuz dan Kendali Kawasan
Trump beberapa kali mengunggah peta wilayah melalui akun Truth Social. Dalam unggahannya, Trump menyebut perairan strategis tersebut merupakan milik AS.
Klaim itu kemudian mendapat sorotan dari Rusia. Wakil Tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mempertanyakan dasar hukum internasionalnya.
Nebenzia mengaku tidak memahami bagaimana rencana tersebut dapat diwujudkan. Menurutnya, penetapan wilayah itu sebagai milik AS perlu menghadapi persoalan hukum internasional.
Trump juga menegaskan AS memiliki kendali penuh atas kawasan sekitar selat. Klaim tersebut mencakup jalur perairan penting dan wilayah darat di selatan Iran.
Tekanan AS terhadap Iran Makin Kuat
Trump menilai Iran belum siap membuat kesepakatan yang tepat dengan AS. Pernyataan itu muncul setelah tekanan ekonomi terhadap Iran semakin diperketat.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi menurut pendapat saya mereka belum siap untuk membuat kesepakatan yang tepat,” ujar Trump.
Trump membantah tekanan ekonomi membuat pilihan militer AS semakin terbatas. Dia memilih menunggu dampak tekanan tersebut terhadap kondisi ekonomi Iran.
Menurut Trump, Iran menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang berat. “Mereka tidak memiliki uang, tidak memiliki angkatan laut, tidak memiliki angkatan udara,” katanya.
Trump juga menyebut Iran tidak mampu membayar tentara dan kepolisian. Dia bahkan mengeklaim inflasi Iran telah mencapai 350 persen.
Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Ini Syarat yang Harus Penuhi AS
Lalu Lintas Selat Hormuz Anjlok 90 Persen
Di tengah ketegangan tersebut, aktivitas pelayaran melalui kawasan itu masih tertekan. Risiko keamanan dan serangan terhadap kapal komersial membuat lalu lintas tetap jauh dari kondisi sebelum perang.
Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau UKMTO melaporkan perkembangan tersebut pada Jumat, 21 Agustus. Lalu lintas melalui selat tercatat sekitar 90 persen lebih rendah dibandingkan sebelum perang.
Situasi itu terjadi meski AS dan Iran sempat mencapai kesepakatan pada Juni. Nota kesepahaman tersebut menyerukan penghentian permusuhan dan pemulihan pengiriman.
Namun, kesepakatan itu tidak berjalan sesuai rencana. Sengketa mengenai pelaksanaan kesepakatan menghambat pemulihan navigasi melalui jalur strategis tersebut.
Konflik AS dan Iran bermula pada akhir Februari. Serangan mendadak AS-Israel terhadap Iran kemudian dibalas dengan serangan Iran.
Iran menyerang sejumlah sasaran di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan. Ketegangan tersebut kemudian terus memengaruhi keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Klaim Trump menambah dimensi baru dalam konflik yang belum sepenuhnya mereda. Status dan keamanan Selat Hormuz kini tetap menjadi bagian penting dari ketegangan AS-Iran. (*)
Editor: Yulian Saputra


