- Iran mensyaratkan AS menghentikan ancaman dan operasi militer sebelum membuka Selat Hormuz.
- Syarat Iran mencakup pencabutan sanksi, blokade laut, dan penarikan pasukan AS.
- Militer AS menilai serangan udara tidak akan memaksa Teheran menyerah dan berisiko memicu balasan.
Jakarta – Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan. Teheran meminta Washington menghentikan ancaman serta operasi militer terhadap Iran dan sekutunya.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyampaikan sikap tersebut. Pernyataan itu dikutip Press TV pada Minggu (9/8).
“Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai AS memperbaiki sikapnya dan berhenti mengancam Republik Islam,” katanya, seperti dikutip Antara.
Baca juga: Trump Batal Serang Iran, Ini Nasib Rupiah di Tengah Harapan Damai Timur Tengah
Iran Ajukan Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Zolghadr menyebut terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi Washington. Iran meminta penghentian operasi militer terhadap Iran dan sekutunya.
Teheran juga menuntut pencabutan sanksi dan blokade laut. Iran turut meminta pasukan AS ditarik dari wilayah sekitar negaranya.
Selain itu, pemerintah Iran menuntut pembayaran kompensasi. Tuntutan tersebut menjadi prasyarat sebelum akses pelayaran kembali dibuka.
Sikap Iran berhadapan dengan rencana kesepakatan yang sebelumnya disampaikan Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut pembukaan kembali jalur tersebut masuk dalam pembahasan damai.
Kesepakatan tersebut juga mencakup pengaturan mengenai program nuklir Iran. Trump sebelumnya mengatakan serangan terhadap Iran dibatalkan karena prospek kesepakatan tersebut.
AS Mulai Cari Jalan Akhiri Konflik Iran
Di tengah kebuntuan tersebut, sejumlah pejabat AS mulai mendorong penyelesaian konflik. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine disebut aktif mencari jalan keluar.
CNN melaporkan Caine menggelar sejumlah pertemuan rahasia dalam beberapa pekan terakhir. Pertemuan itu melibatkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Direktur CIA John Ratcliffe juga disebut menghadiri pertemuan tersebut. Pembahasan diarahkan untuk menyelaraskan posisi pemerintah AS terkait konflik.
Caine juga disebut memperingatkan risiko eskalasi kepada Trump. Kebuntuan dinilai dapat semakin besar jika konflik terus berlanjut.
Baca juga: QRIS Marak Dipakai Deposit Judol, DPR Desak Pemerintah Putus Aliran Dana
Militer AS Waspadai Serangan Balasan
Kalangan militer dan intelijen AS semakin memahami keterbatasan kekuatan udara. Serangan terhadap infrastruktur Iran dinilai belum tentu memaksa Teheran menyerah.
Sebaliknya, serangan udara berpotensi memicu respons dari Iran. Sekutu AS di kawasan Teluk Persia juga berisiko menjadi sasaran balasan.
Pandangan tersebut disebut turut menjadi pertimbangan Caine. Kondisi itu memperkuat dorongan untuk mencari penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga membuka peluang tercapainya gencatan senjata. Menurutnya, kesepakatan selama 30 hingga 60 hari berpotensi dicapai dalam waktu dekat.
Sementara itu, Iran dan Oman telah menyepakati rincian geografis jalur pelayaran. Kesepakatan tersebut diumumkan Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu (5/8).
Trump pada 1 Agustus juga menyatakan serangan terhadap Iran telah dibatalkan. Prospek kesepakatan menjadi alasan utama pembatalan tersebut.
Namun, tuntutan Teheran menunjukkan pembukaan Selat Hormuz masih bergantung pada perubahan sikap Washington. Jalur strategis itu belum akan dibuka sampai Iran menilai seluruh syaratnya terpenuhi. (*)
Editor: Galih Pratama


