Poin Penting
- Bank emas mengubah emas pasif menjadi aset produktif dalam sistem keuangan.
- Minat investasi emas masih tinggi karena emas dinilai sebagai aset safe haven.
- Jumlah nasabah dan tabungan emas meningkat sejak layanan bulion diluncurkan.
Jakarta – Ekosistem bank emas mulai memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melihat potensi pengelolaan emas masih sangat besar.
Airlangga mengatakan emas kini dapat menjadi aset produktif dalam sistem keuangan. Pemanfaatan tersebut berbeda dengan kondisi sebelumnya ketika emas lebih banyak tersimpan pasif.
“Ini juga menjadi nilai tambah tersendiri, karena sebelumnya emas itu hanya dinilai tidak digunakan di aset perbankan,” kata Airlangga di BSD City, Tangerang, dikutip Antara, Jumat (21/8).
Baca juga: Menko Airlangga: Karhutla Kalimantan Ganggu Ekonomi
Ekosistem Bank Emas Punya Potensi Besar
Airlangga mengatakan layanan bank emas telah beroperasi sekitar satu tahun. Ekosistem bulion tersebut telah mengelola emas dalam jumlah besar sejak diluncurkan.
Menurut dia, minat masyarakat terhadap investasi dan pengelolaan emas masih tinggi. Emas tetap menarik karena dipandang sebagai aset aman dalam jangka panjang.
Potensi tersebut semakin terbuka dengan berkembangnya instrumen investasi berbasis emas. Salah satunya melalui Exchange-Traded Fund (ETF) yang diperdagangkan di bursa.
“Ini kenaikannya luar biasa karena emas lalu menjadi safe haven investasi,” kata Airlangga.
Dia menilai pengembangan instrumen tersebut dapat menarik investasi lebih besar. Pengelolaan emas juga berpeluang berkembang melalui ekosistem keuangan yang semakin luas.
Bank Emas Perluas Pemanfaatan Emas Masyarakat
Layanan bank emas nasional diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025. Perkembangannya terlihat dari pertumbuhan jumlah nasabah dan tabungan emas.
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan kenaikan jumlah nasabah PT Pegadaian. Nasabah meningkat dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,6 juta pada Februari 2026.
Pada periode yang sama, tabungan emas masyarakat meningkat dari 10,5 ton menjadi 19,25 ton. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan layanan pengelolaan emas.
Perkembangan serupa terlihat pada PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Pengelolaan emas melalui cicil, gadai, dan tabungan mencapai 22,5 ton.
Sebelumnya, total pengelolaan emas BSI tercatat 16,85 ton. Data tersebut merupakan posisi sebelum peluncuran Kegiatan Usaha Bulion pada Januari 2025.
Baca juga: 1.800 Ton Emas Masih di Bawah Bantal, Airlangga Dorong Masuk Instrumen Keuangan
Minat Nasabah terhadap Tabungan Emas Meningkat
Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah nasabah tabungan emas BSI. Jumlah nasabah meningkat dari 531.329 pada Desember 2025 menjadi 766.742 pada Februari 2026.
Kenaikan tersebut memperlihatkan minat masyarakat terhadap produk berbasis emas semakin besar. Tren itu turut memperkuat perkembangan ekosistem bulion di Indonesia.
Bagi perekonomian, pengelolaan emas membuka peluang pemanfaatan aset secara lebih produktif. Emas tidak hanya disimpan, tetapi dapat masuk ke dalam sistem keuangan.
Airlangga melihat peluang pengembangan tersebut masih sangat besar. Tingginya minat investasi menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek ekosistem bulion.
Dengan perkembangan produk dan jumlah nasabah, bank emas berpotensi memperluas pemanfaatan emas masyarakat. Ekosistem tersebut pada akhirnya dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian. (*)
Editor: Galih Pratama


