Poin Penting
- The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen.
- Rupiah diperkirakan belum menguat signifikan karena tekanan eksternal masih tinggi.
- BI diproyeksikan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.
Jakarta – Keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50–3,75 persen, dinilai memberikan ruang ‘pelonggaran’ bagi pasar keuangan, termasuk Indonesia.
Namun, keputusan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penguatan nilai tukar mata uang Garuda maupun bagi Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan, keputusan The Fed menahan suku bunga sejatinya tak bisa diartikan sebagai sinyal awal pelonggaran kebijakan moneter.
“Keputusan The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% memang menghilangkan risiko kenaikan langsung pada rapat ini, tetapi belum dapat dibaca sebagai awal pelonggaran kebijakan,” ujar Josua dalam keterangannya, Kamis, 30 Juli 2026.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Sinyal Hawkish Kian Menguat
Ia menjelaskan, keputusan tersebut diambil melalui voting dengan komposisi 9 berbanding 3. Dalam pernyataannya, The Fed menegaskan bahwa inflasi di AS masih berada di atas target 2 persen, sementara kondisi ekonomi masih tergolong kuat sehingga komitmen menjaga stabilitas harga belum berubah.
Selain itu, The Fed juga menyoroti kenaikan signifikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sejak pertemuan sebelumnya.
Rupiah Masih Dibayangi Berbagai Tekanan
Menurut Josua, keputusan The Fed menahan suku bunga memang mencegah pelebaran selisih imbal hasil antara aset keuangan AS dan Indonesia. Namun, pasar belum melihat adanya perubahan arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.
Ia mencatat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sendiri masih bertahan di sekitar 4,70 persen, usai keputusan diumumkan.
Di sisi lain, rupiah masih bertengger di kisaran Rp18.065 per dolar AS, melemah sekitar 7,6 persen sejak awal tahun. Sementara, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga masih tinggi, yakni sekitar 7,33 persen.
“Artinya, pasar melihat keputusan tersebut sebagai penundaan kenaikan, bukan perubahan arah menuju suku bunga lebih rendah,” ujarnya.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, IHSG Diperkirakan Masih Bergerak di Level 6.000-6.250
Bahkan, berdasarkan kontrak pasar, peluang The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September masih mencapai sekitar 63 persen, ke kisaran 3,75–4,00 persen.
Selama ekspektasi kenaikan tersebut bertahan, kata dia, dolar dan obligasi AS tetap menarik sehingga ruang penguatan rupiah terbatas
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi pelbagai faktor lain di luar kebijakan The Fed, misalnya harga minyak dunia, konflik geopolitik di Timur Tengah, kebutuhan dolar untuk impor, arus pembayaran dividen, hingga kepastian arah kebijakan ekonomi domestik.
“Karena itu, keputusan The Fed menahan suku bunga lebih tepat disebut mengurangi satu sumber tekanan, bukan menghilangkan seluruh tekanan terhadap rupiah,” ujar Josua.


