Poin Penting:
- Perang AS-Iran berpotensi berlangsung berbulan-bulan karena sengketa Selat Hormuz belum selesai.
- Iran dan AS masih berunding, tetapi serangan balasan terus memperpanjang eskalasi konflik.
- Ketegangan Selat Hormuz menekan IHSG dan meningkatkan kekhawatiran pasokan energi global.
Jakarta – Ketegangan di Selat Hormuz membuat perang Amerika Serikat (AS)-Iran berpotensi berlangsung berbulan-bulan. Dampaknya mulai terasa pada pasar keuangan dan kekhawatiran pasokan energi global.
Dilansir Antara, pola konflik masih sulit dihentikan. Bentrokan terbatas terus muncul setelah jeda pertempuran singkat.
Washington dan Teheran masih berunding mengenai gencatan senjata jangka panjang. Namun, sengketa pengendalian jalur pelayaran belum menemukan titik temu.
Baca juga: Bos BI Sebut Prospek Ekonomi Dunia Tetap Lemah di 2026 Akibat Perang AS-Iran
Perang AS-Iran Dipicu Perebutan Kendali Selat Hormuz
Dalam skenario yang dinilai paling mungkin, perang AS-Iran tidak langsung meluas. Permusuhan diperkirakan tetap berlanjut dengan intensitas terbatas.
Negara-negara Teluk dan Pakistan berupaya menahan eskalasi lebih besar. Mereka tidak menginginkan konflik regional kembali pecah.
Bloomberg melaporkan negosiasi diplomatik tetap berjalan. Peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka.
Iran menilai ruang manuver militer Presiden Donald Trump tidak sepenuhnya bebas. Cadangan minyak global menurun dan pasokan senjata AS berkurang.
Namun, beberapa sumber menilai Trump belum akan mundur. Iran diminta memberikan konsesi terkait Selat Hormuz.
Serangan Balasan Memperpanjang Perang AS-Iran
Teheran dan Washington sempat menandatangani memorandum penghentian konflik sebelum 18 Juni. Konflik tersebut bermula pada 28 Februari.
Sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS menyebut serangan itu sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.
Iran kemudian menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Eskalasi ini membuat perang AS-Iran kembali memasuki fase panas.
Pada 12 Juli, Iran menutup Selat Hormuz hingga campur tangan AS berakhir. Penutupan diumumkan setelah gelombang serangan udara baru.
Sehari kemudian, Trump menyatakan AS akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz. Pemerintah AS juga memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan Iran.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.938 per Dolar AS, Ditopang Redanya Tensi AS-Iran
Dampak Perang AS-Iran ke Pasar dan Energi Global
Ketegangan terbaru langsung memengaruhi sentimen pasar global. Kekhawatiran utama muncul dari potensi gangguan pasokan energi dunia.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan IHSG terbebani sentimen eksternal dan internal. Konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor eksternal utama.
Pada Rabu (29/7) sore, IHSG ditutup turun 39,20 poin atau 0,64 persen ke 6.091,39. Indeks LQ45 juga melemah 0,25 persen.
Baca juga: IHSG Berakhir di Zona Merah ke Posisi 6.091
Dari mancanegara, bursa kawasan Asia bergerak variatif seiring ketegangan yang kembali meningkat antara AS dan Iran, yang menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di tingkat global.
Ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter membuat tekanan pasar semakin besar. Konflik Selat Hormuz menjadi risiko yang belum mereda.
Jika ketegangan terus berulang, harga energi berpotensi tetap bergejolak. Dampak perang AS-Iran bisa meluas ke inflasi, perdagangan, dan stabilitas pasar keuangan global. (*)
Editor: Yulian Saputra


