Poin Penting
- PHK massal mengancam target pertumbuhan ekonomi 6 persen karena menekan konsumsi rumah tangga
- El Nino, inflasi, dan pelemahan rupiah berisiko menekan daya beli masyarakat
- Celios menilai target 6 persen terlalu optimistis di tengah ketidakpastian ekonomi.
Jakarta – Bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK) dinilai menjadi hambatan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027.
Director of Economy Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan, melonjaknya angka PHK bisa menekan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi konsumsi rumah tangga.
“Bayang-bayang PHK masal juga masih menjadi faktor pelemahan perekonomian di tahun 2027,” ujar Huda, dalam keterangannya, dikutip Selasa, 8 September 2026.
Menurut Huda, konsumsi rumah tangga sendiri menjadi komponen terbesar dalam pembentukan PDB nasional.
“Konsumsi rumah tangga yang selama ini menyumbang lebih dari 50 persen dari pembentukan PDB nasional,” jelasnya.
Diketahui, saat menyampaikan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 mencapai 6 persen.
Baca juga: Pemerintah Bentuk Satgas Mitigasi PHK, Prasetyo Hadi jadi Ketua
Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan melaporkan 43.805 orang terdampak PHK di Indonesia dari Januari hingga Juli 2026.
Ancaman El Nino
Selain bayang-bayang PHK, Celios menyebut sejumlah risiko lain berpotensi menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6 persen.
Salah satunya, dampak ancaman fenomena cuaca ekstrem El Nino Godzilla yang dapat mempengaruhi produksi dan harga pangan.
“Ada kekhawatiran terkait dengan el-Nino Godzilla, kenaikan harga barang secara umum (inflasi),” jelasnya.
Baca juga: Celios Ungkap Penyebab Kredit UMKM Melambat, Bukan Karena Likuiditas
Selain itu, kenaikan harga barang secara umum atau inflasi serta pelemahan nilai tukar rupiah juga berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.
Soroti Target 6 Persen
Sebelumnya, Celios menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dinilai terlalu optimistis di tengah ketidakpastian global dan sejumlah tantangan domestik.
“Target pertumbuhan ekonomi 6 persen saya nilai terlalu optimis di tengah kondisi ekonomi global dan nasional seperti saat ini,” ujar Huda.
Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang tengah dihadapi pemerintah yakni terbatasnya mesin pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran pemerintah. Mesin tersebut sudah “habis” digunakan di tahun 2025-2026.
“Artinya tidak ada lagi mesin pengungkit pertumbuhan ekonomi tahun depan,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


