Poin Penting
- Pembiayaan multifinance ke sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai Rp42,51 triliun pada Juli 2026, tumbuh 10,12 persen yoy di tengah fenomena Super El Nino
- Pembiayaan atau penyertaan modal ventura di sektor yang sama juga tumbuh 10,49 persen yoy menjadi Rp757,06 miliar pada Juli 2026
- OJK mendorong industri PVML memperkuat manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas pembiayaan di tengah risiko iklim dan El Niño
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan oleh perusahaan multifinance di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan senilai Rp42,51 triliun pada Juli 2026.
Angka tersebut tumbuh 10,12 persen year on year (yoy) di tengah fenomena Super El Nino terhadap industri Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman, mengatakan kinerja pembiayaan pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menunjukkan pertumbuhan positif.
“Secara umum kinerja pembiayaan pada sektor-sektor dimaksud pada Juli 2026 tetap tumbuh positif,” ujar Agusman, dalam keterangannya, dikutip Rabu, 9 September 2026.
Baca juga: Jurus OJK Dorong Kinerja Industri PVML Syariah
Selain multifinance, lanjut Agusman, pembiayaan atau penyertaan modal ventura pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencatat pertumbuhan impresif.
Pada periode yang sama, pembiayaan atau penyertaan modal ventura di sektor tersebut tumbuh 10,49 persen yoy menjadi Rp757,06 miliar.
Dorong Penguatan Manajemen Risiko
Dikatakan Agusman, OJK mendorong industri PVML untuk memperkuat manajemen risiko dan menerapkan prinsip kehati-hatian untuk mengantisipasi potensi dampak fenomena iklim terhadap kualitas pembiayaan.
Upaya tersebut diperlukan agar pertumbuhan industri PVML tetap berlangsung sehat dan berkelanjutan, terutama pada sektor-sektor yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan cuaca.
“Industri PVML terus didorong untuk memperkuat manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian guna menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” bebernya.
Baca juga: BNPL Makin Tumbuh, OJK Minta Multifinance Perketat Manajemen Risiko
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa September 2026 masih menjadi fase kritis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Kondisi cuaca kering yang masih dominan, pengaruh El Niño, serta tingginya jumlah titik panas (hotspot) menjadi faktor yang perlu terus diwaspadai oleh seluruh pemangku kepentingan.
Selain itu, BMKG memprediksi El Niño masih akan bertahan hingga awal tahun 2027. Dampaknya terlihat dari semakin panjangnya hari tanpa hujan di berbagai daerah.
Hingga awal September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada musim kemarau, sementara hujan yang terjadi umumnya bersifat lokal dan belum mampu memperbaiki kondisi kekeringan secara merata. (*)
Editor: Galih Pratama


