Poin Penting:
- Kasus ISPA di Banten melonjak dari sekitar 2.000 menjadi 4.500 kasus.
- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian pemerintah daerah.
- Aktivitas warga dilarang dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
Jakarta – Gubernur Banten Andra Soni memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) hingga 11 September 2026. Kebijakan itu ditempuh karena kualitas udara belum aman akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Keputusan tersebut berkaitan dengan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. Pemerintah daerah menilai keselamatan siswa harus menjadi prioritas selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Andra mengatakan lonjakan kasus ISPA menjadi salah satu pertimbangan utama. Jumlah kasus yang biasanya sekitar 2.000 kini meningkat hingga sekitar 4.500 kasus.
Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu 2.961 Penerbangan, 341 Ribu Penumpang Terdampak
PJJ Diperpanjang karena Kasus ISPA Melonjak
Kondisi tersebut membuat pembelajaran tatap muka belum memungkinkan untuk kembali digelar. Paparan abu vulkanik dinilai meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi siswa.
Karena itu, PJJ diperpanjang sampai Jumat, 11 September 2026. Kebijakan ini sekaligus memberi ruang bagi pemerintah untuk memantau perkembangan kondisi udara.
Pemprov Banten juga terus mengawasi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Gunung tersebut masih berstatus Siaga atau Level III sejak 2 Juli 2026.
Abu Vulkanik Masih Keluar dari Gunung Anak Krakatau
Andra mengatakan pemantauan terhadap gunung api tersebut terus dilakukan. Abu vulkanik hitam masih keluar dan pergerakannya bergeser menuju samudra.
“Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudra. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” kata Andra dikutip Antara, Rabu (9/9).
Hasil peninjauan dari pos pengamatan menunjukkan aktivitas erupsi mulai menurun. Namun, kondisi tersebut belum mengubah rekomendasi keselamatan yang berlaku.
Baca juga: BNPB Minta Tambahan Anggaran Rp5,67 Triliun untuk Penanganan Bencana 2026
Warga Diminta Menjauh dari Radius Tiga Kilometer
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melarang masyarakat mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer. Masyarakat juga diwajibkan memakai masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, M. Nugraha Kartadinata, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut erupsi masih berlangsung dengan tipe strombolian.
Erupsi tipe tersebut berpotensi melontarkan material hingga lebih dari dua kilometer. Material yang keluar tidak hanya berupa abu vulkanik, tetapi juga batuan.
“Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer. Kepada wisatawan atau siapa pun, saya imbau untuk tetap menjauh dari radius bahaya,” kata Nugraha.
Situasi itu membuat kehati-hatian tetap diperlukan meski intensitas erupsi mulai menurun. Perpanjangan PJJ menjadi langkah pemerintah Banten untuk menekan risiko paparan abu vulkanik terhadap siswa.
Dengan kondisi Gunung Anak Krakatau yang masih erupsi, PJJ hingga 11 September menjadi pilihan sementara. Pemerintah tetap memantau perkembangan sebelum menentukan langkah pembelajaran berikutnya. (*)
Editor: Galih Pratama


