oleh Eko B Supriyanto
RISIKO krisis yang rendah, tapi perbankan Indonesia mencadangkan modal terlalu tinggi untuk mengantisipasi krisis. Pendek kata, modal bukan untuk menyalurkan kredit, melainkan digunakan sebagai pencadangan krisis yang sebenarnya berisiko rendah.
Peraih Nobel di bidang ekonomi, Prof. Robert F. Engle III, menilai kondisi permodalan yang dimiliki perbankan Indonesia. Menurut Engle, yang berbicara dalam kuliah umum di Bank Mega Intellectual Series dengan tema “The Prospect for Global Financial Stability” menegaskan, permodalan industri perbankan Indonesia terlampau tinggi.
Engle menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki risiko yang sangat rendah di industri perbankan. Namun, perbankan Indonesia mencadangkan modal untuk mengantisipasi krisis. Menurutnya, permodalan untuk pencadangan dalam mengantisipasi krisis lima kali lebih besar daripada krisis 2008. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Poin Penting Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75 persen pada Maret 2026, dengan suku… Read More
Oleh: Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi InfoBank Media Group ASING, Aseng dan Asep. Bank milik… Read More
Poin Penting ESDM memastikan stok BBM nasional aman dengan ketahanan mencapai 27–28 hari, di atas… Read More
Poin Penting Chubb Indonesia bekerja sama dengan Bank DBS Indonesia meluncurkan asuransi siber Cyber Guard… Read More
Poin Penting PLN mengimbau pelanggan memastikan instalasi listrik aman sebelum meninggalkan rumah saat mudik Idulfitri… Read More
Poin Penting BNI bagikan dividen Rp13,03 triliun atau Rp349,41 per saham, setara 65% dari laba… Read More