Menurut Engle, permodalan yang besar tapi malah dibuat untuk pencadangan. Hal ini sebenarnya tidak perlu dilakukan. Permodalan tersebut, lanjutnya, tidak disalurkan menjadi pembiayaan ke sektor-sektor yang membutuhkan.
Sementara, risiko perbankan di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan risiko di Singapura, Malaysia, maupun Thailand. Indonesia memiliki risiko yang lebih rendah. Jadi, pendeknya, permodalan yang tinggi tidak diperlukan.
Baca juga: Kemampuan Bank Tangani NPL Tetap Bagus
Pandangan Engle ini dari sudut risiko ada benarnya. Namun, dari sisi sejarah panjang perbankan Indonesia, terutama sejak krisis 1998, tentu penilaian Engle perlu didiskusikan lebih jauh.
Ada semacam trauma yang sulit dilupakan oleh perbankan Indonesia—yaitu krisis perbankan 1998 yang menelan biaya krisis sangat besar karena perbankan pada saat itu tak memiliki modal yang memadai, terutama dalam mengantisipasi kebangkrutan. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,26 persen ke level 6.971,02. Mayoritas sektor melemah, dipimpin sektor… Read More
Poin Penting: Trump mengeklaim AS mampu menghancurkan Iran dalam satu malam dan menyebut kemungkinan beraksi… Read More
Poin Penting Wacana pemotongan gaji menteri dan DPR masih dalam pembahasan. Menteri Keuangan Purbaya memperkirakan… Read More
Poin Penting Trisula Textile Industries mencatat laba bersih Rp12,57 miliar pada 2025, naik 9 persen… Read More
Poin Penting Kemenkop dan BPJS Kesehatan teken MoU untuk perluas layanan kesehatan di desa. Kopdes… Read More