Poin Penting
- Kredivo menyebut rasio NPF masih di bawah batas 5 persen yang ditetapkan OJK.
- Perusahaan menjaga kualitas pembiayaan melalui penilaian debitur dan penyesuaian limit kredit.
- Kredivo mendorong penggunaan kredit secara sehat agar limit bisa digunakan kembali setelah dilunasi.
Jakarta – PT Kredivo Finance Indonesia menyebut rasio kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) perseroan masih berada dalam batas aman sepanjang 2026.
Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari mengatakan perusahaan masih menjaga NPF di bawah batas yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 5 persen. Namun, ia tidak mengungkapkan angka NPF secara spesifik.
“Sebenarnya penetapan dari OJK itu 5 persen. Dan kita masih di bawah angka,” ujarnya, usai acara bertajuk Satu Dekade Kredivo Group, di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Baca juga: Studi UI: Kredit Digital Bergeser dari Konsumtif ke Produktif
Menurut Indina, tren NPF Kredivo sepanjang 2026 masih relatif stabil. Perusahaan juga belum melihat lonjakan signifikan pada pembiayaan bermasalah meski permintaan kredit digital meningkat.
“Jadi sebenarnya di tahun ini trennya masih cukup aman, masih cukup terjaga. Apakah naik atau turun? Sebenarnya saya bisa katakan stabil saja sih,” bebernya.
Strategi Kredivo Menekan NPF
Di tengah meningkatnya penggunaan paylater belakangan ini, Kredivo pun menerapkan strategi menjaga kredit bermasalah nasabahnya. Hal ini dimulai dari proses penilaian calon debitur.
Ia bilang, perusahaan menerapkan penilaian terhadap calon debitur sebelum memberikan fasilitas kredit. Meningkatnya permintaan kredit tidak otomatis membuat seluruh pengajuan disetujui..
“Kita dari awal asesmen debitur itu sudah cukup ketat. Jadi tentunya kita tidak menerima, walaupun misalnya demand-nya naik,” tegasnya.
Selain itu, kata dia, Kredivo juga menyesuaikan besaran limit kredit dengan profil masing-masing pengguna. Langkah ini dilakukan agar jumlah kredit yang diberikan tetap sesuai dengan kemampuan konsumen dalam membayar kewajibannya.
“Pemberian kredit limitnya juga disesuaikan supaya sebisa mungkin mereka tidak jadi pengguna yang gagal bayar,” terangnya.
Dorong Penggunaan Kredit Secara Sehat
Menurut Indina, menjaga kualitas kredit bukan hanya untuk menekan NPF dalam jangka pendek. Kredivo juga ingin memastikan fasilitas kredit dapat digunakan secara berkelanjutan oleh nasabah.
Dalam skema kredit bergulir, limit yang sudah dilunasi dapat digunakan kembali. Karena itu, perilaku pembayaran yang sehat dinilai penting bagi pengguna sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan.
“Karena buat kami yang penting justru limitnya itu bisa digunakannya terus-menerus. Karena setelah mereka melunasi, itu limitnya akan kembali gitu,” bebernya.
Baca juga: Pascakasus Purworejo, Kredivo dan KrediFazz Evaluasi Seluruh Proses Penagihan
Ia menambahkan, penggunaan limit secara sehat menjadi salah satu cara Kredivo menjaga pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
“Penggunaan yang sehat itu yang akan membuat perusahaan kami jadi lebih sustain dan lebih sehat ke depannya,” tandasnya.
Perbaikan kualitas NPF
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kualitas pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) perusahaan pembiayaan (multifinance) membaik pada Juni 2026.
Hal itu terlihat dari penurunan Non-Performing Financing (NPF) gross BNPL menjadi 3,09 persen, dari 3,44 persen pada Mei 2026.
Baca juga: OJK Optimistis Aturan Baru BNPL Perkuat Kualitas Pembiayaan, Ini Alasannya
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mengatakan penurunan NPF gross BNPL tersebut antara lain ditopang oleh perbaikan kualitas pembayaran debitur.
“NPF gross BNPL Perusahaan Pembiayaan pada Juni 2026 menurun menjadi 3,09 persen dibandingkan posisi Mei 2026 sebesar 3,44 persen, antara lain didukung oleh perbaikan kualitas pembayaran debitur,” ujar Agusman, dalam keterangannya, dikutip Jumat, 14 Agustus 2026.
Diketahui, penurunan NPF gross tersebut menunjukkan perbaikan usai sempat melonjak pada Mei 2026. Secara bulanan, NPF gross BNPL turun 0,35 poin persentase. (*)
Editor: Yulian Saputra


