Poin Penting
- Sebanyak 54 persen kredit Kredivo pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif, seperti modal usaha, pendidikan, renovasi rumah, dan kesehatan
- Satu dari enam pengguna aktif Kredivo merupakan pengakses kredit pertama, termasuk kelompok perempuan, usia muda, dan pelaku usaha mikro
- Temuan ini muncul saat porsi pembiayaan produktif multifinance masih 44,47 persen pada Juni 2026, di bawah target OJK sebesar 46-48 persen.
Jakarta — Pemanfaatan layanan kredit digital di Tanah Air mulai menggeser kebutuhan dari konsumtif ke produktif. Hal ini tercermin dalam Studi Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) bersama Kredivo Group.
Hasil studi tersebut menunjukkan sekitar 54 persen kredit yang disalurkan melalui Kredivo pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif mencakup modal usaha, renovasi rumah, pendidikan, hingga kesehatan.
Studi ini mengkaji kontribusi layanan PayLater dan Pinjaman Tunai (dari KrediFazz) terhadap perluasan akses kredit, perilaku finansial masyarakat, pemberdayaan UMKM, serta aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw mengatakan, kajian tersebut dilakukan untuk memberikan perspektif berbasis bukti mengenai peran kredit digital dalam perekonomian Indonesia.
Baca juga : Ada 8 Pemain BNPL di Multifinance, OJK Proyeksi Bisnis Terus Tumbuh
“Di tengah pertumbuhan industri yang pesat dan diskursus publik yang berkembang, perspektif berbasis bukti menjadi penting untuk melihat bagaimana kredit digital benar-benar bekerja dalam konteks sosial ekonomi Indonesia,” ujar Paksi, dalam keterangannya, dikutip Kamis, 3 September 2026.
Menurutnya, pembahasan mengenai kredit digital tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan industri. Dampaknya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari juga perlu diperhatikan.
“Ketika sebuah layanan sudah menjadi fenomena sosial dalam skala ini, pertanyaan tentang dampaknya tidak lagi dapat dilihat hanya dari pertumbuhan industri, tetapi juga dari bagaimana ia memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari,” ujarnya.
Satu dari Enam Pengguna Kredivo Pengakses Kredit Pertama
Ia menjelaskan, studi tersebut juga menemukan adanya kontribusi kredit digital terhadap perluasan akses pembiayaan. Satu dari enam pengguna aktif Kredivo pada 2025 merupakan pengakses kredit pertama.
Baca juga: AdaKami Berkontribusi hingga Rp10,96 Triliun ke PDB Nasional
Profil pengguna tersebut didominasi kelompok yang selama ini relatif kurang terjangkau layanan kredit formal, yaitu 48 persen perempuan dan 57 persen berusia di bawah 30 tahun.
Di segmen UMKM, 97 persen penerima pinjaman modal usaha merupakan pelaku usaha mikro, sementara sekitar 40 persen memperoleh akses kredit formal pertama melalui Kredivo
Sementara, Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan hasil awal tersebut menggambarkan perubahan pemanfaatan layanan kredit digital selama satu dekade terakhir.
“Studi ini memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kontribusi tersebut sekaligus menjadi masukan bagi kami untuk terus menghadirkan layanan yang semakin relevan, inklusif, dan bermanfaat bagi konsumen Indonesia dengan ragam kebutuhan yang terus berkembang dinamis,” tandasnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, porsi penyaluran pembiayaan produktif oleh perusahaan pembiayaan (multifinance) masih berada di bawah target yang ditentukan pada periode 2026-2027.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan porsi pembiayaan produktif multifinance pada Juni 2026 sebesar 44,47 persen dari total penyaluran pembiayaan.
“Pada Juni 2026, porsi penyaluran pembiayaan produktif oleh perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 44,47 persen dari total penyaluran pembiayaan,” ujar Agusman, dalam keterangannya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Sebagai informasi, pada Mei 2026, penyaluran pembiayaan produktif oleh perusahaan multifinance tercatat 44,57 persen. Angka ini turun tipis jika dibandingkan pada Juni 2026.
Meski secara prosentase terjadi penurunan, namun total outstanding pembiayaan industrial ini tetap solid dengan menyentuh Rp511,26 triliun.
OJK sendiri menargetkan porsi pembiayaan multifinance ke sektor produktif berada di kisaran 46-48 persen pada 2026-2027. (*)
Editor: Galih Pratama


