Poin Penting
- Riset LPEM FEB UI: kontribusi AdaKami ke PDB 2024 Rp6,95–Rp10,96 triliun, berdampak ke 185 sektor
- Kontribusi AdaKami ciptakan 47–78 ribu lapangan kerja dan jadi bantalan konsumsi rumah tangga.
- Masyarakat memanfaatkan pinjaman AdaKami dana untuk modal usaha 53,1 persen, sedangkan 28,1 persen pengguna catat kenaikan omzet.
Jakarta – Platform pinjaman daring (pindar), AdaKami, tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengestimasikan bahwa sepanjang 2024, AdaKami berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp6,95 triliun hingga Rp10,96 triliun.
Kontribusi tersebut bersumber dari efek berganda (ripple effect) penyaluran pembiayaan yang tidak hanya dirasakan peminjam, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor melalui peningkatan konsumsi rumah tangga.
Efek Ripple: 185 Sektor Terdampak
Dalam periode analisis, LPEM FEB UI mencatat sedikitnya 185 sektor ekonomi nasional memperoleh nilai tambah dari aktivitas ekonomi yang dipicu pendanaan AdaKami.
Tiga sektor dengan dampak terbesar meliputi: jasa lembaga keuangan lainnya (21,34 persen), jasa pendidikan pemerintah (10,03 persen), dan perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30 persen).
Dampak tersebut kemudian menyebar secara langsung maupun tidak langsung ke berbagai sektor produktif lainnya.
Baca juga: OJK: Ramadan Jadi Pendorong Pembiayaan Pindar
Secara nilai, kontribusi itu bahkan setara dengan PDB negara kepulauan seperti Tonga yang pada 2024 tercatat sebesar USD558 juta atau sekitar Rp9,38 triliun.
Selain mendorong PDB, penyaluran pembiayaan AdaKami juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja bagi sekitar 47 ribu hingga 78 ribu orang di 17 sektor industri. Sektor dengan kontribusi tenaga kerja terbesar antara lain perdagangan besar dan eceran (19,84 persen), jasa pendidikan (18,63 persen), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11 persen).
Menanggapi temuan tersebut, Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo menyatakan, penyaluran pembiayaan mendorong ripple effect melalui peningkatan konsumsi rumah tangga—baik rutin maupun non-rutin—yang kemudian menggerakkan sektor ritel, grosir, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer.
“Dengan demikian, dukungan terhadap sektor ekonomi riil terjadi melalui penguatan permintaan barang dan jasa produktif yang memicu aktivitas ekonomi dan produksi, setidaknya dalam jangka pendek,” jelasnya dikutip 25 Februari 2026.
AdaKami Fokus Pembiayaan Inklusif dan Prudent
Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy, mengatakan bahwa AdaKami berupaya menghadirkan solusi pembiayaan inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
“Kontribusi positif yang dihasilkan melalui aktivitas pembiayaan ini mendorong AdaKami untuk terus menghadirkan layanan yang berkelanjutan serta meningkatkan literasi keuangan pengguna. Dengan demikian, pendanaan yang disalurkan dapat membantu masyarakat agar dapat bertahan, tumbuh, dan beradaptasi di tengah dinamika ekonomi, sekaligus mendukung penguatan ekonomi nasional,” ujar Karissa.
Ketahanan Rumah Tangga dan Stabilitas Konsumsi
Riset LPEM FEB UI juga menunjukkan bahwa pinjaman AdaKami berfungsi sebagai bantalan keuangan (financial buffer) bagi rumah tangga, terutama dalam situasi mendesak, sehingga mampu menjaga tingkat konsumsi (consumption smoothing).
Survei mencatat pinjaman dimanfaatkan untuk menghadapi tekanan ekonomi seperti pemutusan hubungan kerja, sakit keras, hingga peristiwa meninggal dunia dalam keluarga.
Sebanyak 24,51 persen pengguna menyatakan tanpa pinjaman daring, mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan.
Temuan ini memperlihatkan peran pinjaman daring sebagai mekanisme penyangga agar rumah tangga tidak terjebak pada strategi bertahan hidup yang berisiko terhadap kondisi keuangan jangka panjang.
Secara profil keuangan, kelompok peminjam AdaKami memiliki rata-rata pengeluaran Rp4,8 juta per bulan. Di saat yang sama, mereka juga menunjukkan perilaku menabung yang relatif lebih baik dengan rata-rata tabungan hampir Rp700 ribu.
Baca juga: Pendanaan Diprediksi Naik Selama Ramadan, AFPI Minta Pindar Perkuat Credit Control
Dorong Pengembangan Usaha Mikro
Tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, pendanaan AdaKami juga dimanfaatkan untuk pengembangan usaha mikro dan perorangan.
Sebanyak 53,1 persen pengguna yang memanfaatkan pinjaman untuk usaha menggunakannya untuk menambah stok barang, sementara 28,1 persen responden mencatat peningkatan omzet.
Hasil wawancara mendalam juga menunjukkan pembiayaan membantu pelaku usaha meningkatkan skala usaha secara bertahap, seiring peningkatan kapasitas produksi dan penjualan.
Adapun sektor usaha utama yang memanfaatkan pendanaan meliputi perdagangan (53,1 persen), penyediaan akomodasi dan makan minum (18,8 persen), serta pertanian (18,8 persen), sektor-sektor yang berperan penting dalam perputaran ekonomi lokal.
Dengan temuan tersebut, riset LPEM FEB UI menegaskan bahwa kontribusi AdaKami tidak hanya tercermin pada angka PDB, tetapi juga pada penguatan konsumsi rumah tangga, penciptaan lapangan kerja, hingga pengembangan usaha mikro yang menopang ekonomi riil nasional. (*)










