Poin Penting
- ULN perbankan nasional naik menjadi USD32,93 miliar pada Juni 2026, dari USD32,72 miliar pada Mei 2026
- Kenaikan terutama terjadi pada bank BUMN dan bank swasta campuran, sementara ULN bank swasta nasional justru turun menjadi USD21,16 miliar
- ULN swasta masih terkontraksi 0,6 persen secara tahunan, dengan sektor industri pengolahan, jasa keuangan, listrik dan gas, serta pertambangan menjadi kontributor utama.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) perbankan nasional pada Juni 2026 mencapai USD32,93 miliar. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya atau Mei 2026 sebesar USD32,72 miliar.
Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Agustus 2026, kenaikan ULN terjadi hampir di seluruh kelompok bank berdasarkan kepemilikan, kecuali bank swasta nasional.
Secara rinci, ULN terbesar masih berasal dari bank swasta nasional yang mencapai USD21,16 miliar, meski menurun dari USD21,67 miliar pada Mei 2026.
Baca juga: Prabowo Tolak Tawaran Utang IMF: Indonesia Bisa Tanpa Pinjaman
Sementara itu, bank BUMN mencatat ULN sebesar USD6,19 miliar, meningkat dari USD5,62 miliar pada bulan sebelumnya.
Bank swasta campuran juga mencatat kenaikan ULN menjadi USD5,11 miliar dari USD4,95 miliar. Adapun bank swasta asing memiliki ULN sebesar USD454 juta, lebih tinggi dibandingkan pada Mei 2026 yang sebesar USD471 juta.
Adapun, ULN swasta melanjutkan kontraksi. Posisi ULN swasta pada kuartal II atau Juni 2026 tercatat sebesar USD194,6 miliar, atau mengalami kontraksi 0,6 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan kontraksi 1,3 persen (yoy) pada kuartal I 2026.
Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN lembaga keuangan (financial corporations) yang terkontraksi 3,4 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi 6,3 persen (yoy) pada kuartal I 2026.
Baca juga: Pemerintah Mau Tarik Utang Baru Rp876,3 Triliun pada 2027
Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,4 persen dari total ULN swasta.
ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,7 persen terhadap total ULN swasta. (*)
Editor: Galih Pratama


