Poin Penting:
- Laba bersih PTBA melonjak 218 persen menjadi Rp2,65 triliun pada Semester I 2026.
- Pendapatan usaha tumbuh 8 persen menjadi Rp22,03 triliun meski volume penjualan turun 2 persen.
- Arus kas operasi naik 108 persen menjadi Rp4,63 triliun hingga akhir Juni 2026.
Jakarta – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba bersih Rp2,65 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut meroket 218 persen dibandingkan Rp833,04 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Lonjakan laba terjadi saat operasional perusahaan mulai pulih pada kuartal II 2026. Penguatan penjualan ekspor juga ikut menopang perbaikan kinerja perusahaan.
Kondisi operasional yang lebih kondusif mendorong pemulihan produksi. Situasi tersebut sekaligus memperkuat penjualan ekspor secara kuartalan dan tahunan.
Baca juga: Pendapatan Tembus Rp31,3 T, Laba Bukit Asam (PTBA) Terkerek Segini per September 2025
Bukit Asam Cetak EBITDA Rp4,27 Triliun
Kinerja Bukit Asam turut terlihat dari pertumbuhan EBITDA. Hingga akhir Juni 2026, EBITDA mencapai Rp4,27 triliun.
Angka itu meningkat 94 persen dari Rp2,20 triliun pada Semester I 2025. Margin laba bersih tercatat 12 persen, sedangkan margin EBITDA mencapai 19 persen.
Dari sisi pendapatan, PTBA mencatat pendapatan usaha Rp22,03 triliun. Pendapatan tersebut tumbuh 8 persen dibandingkan Rp20,45 triliun pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan itu terjadi meski volume penjualan turun 2 persen. Penjualan tercatat 21,10 juta ton dari sebelumnya 21,62 juta ton.
Kenaikan harga jual rata-rata menjadi penopang utama pertumbuhan pendapatan. Average selling price atau ASP meningkat 10 persen secara tahunan.
Penguatan harga komoditas juga memberi dorongan tambahan bagi kinerja perusahaan. Newcastle Index naik 25 persen, sedangkan ICI-3 meningkat 15 persen.
Ekspor Naik Saat Produksi dan Penjualan Domestik Menurun
Komposisi penjualan PTBA hingga Juni 2026 relatif berimbang. Sebanyak 51 persen penjualan berasal dari pasar domestik dan 49 persen berasal dari ekspor.
Lima negara menjadi tujuan ekspor terbesar perusahaan. Pasar tersebut mencakup Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Di sisi lain, produksi batu bara mengalami tekanan sepanjang Semester I 2026. Produksi turun 10 persen menjadi 19,45 juta ton dari 21,73 juta ton.
Volume angkutan juga menurun menjadi 18,15 juta ton. Pada periode sama tahun sebelumnya, volume angkutan mencapai 19,27 juta ton.
Namun, pasar ekspor menunjukkan perkembangan berbeda. Penjualan ekspor naik 5 persen menjadi 10,33 juta ton.
Sebaliknya, penjualan domestik turun 9 persen menjadi 10,77 juta ton. Pada Semester I 2025, penjualan domestik mencapai 11,78 juta ton.
Pemulihan Operasional Mulai Terlihat pada Kuartal II
Perbaikan operasional terlihat lebih jelas pada kuartal II 2026. Produksi meningkat 94 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Penjualan juga tumbuh 8 persen secara kuartalan. Sementara itu, harga jual rata-rata meningkat 14 persen.
Pemulihan tersebut berlangsung ketika biaya bahan bakar justru meningkat. Harga BBM mencapai Rp19.503 per liter hingga 30 Juni 2026.
Harga tersebut naik 34 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu menekan biaya jasa penambangan dan angkutan kereta api.
Meski demikian, Bukit Asam mampu menjaga biaya operasional melalui efisiensi. Beban pokok pendapatan justru turun 2 persen menjadi Rp17,78 triliun.
Arus Kas Menguat, Pinjaman Bank Turun
Penguatan kinerja juga tercermin pada arus kas operasi perusahaan. Arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp4,63 triliun.
Nilainya melonjak 108 persen dari Rp2,22 triliun pada periode sebelumnya. Peningkatan terutama berasal dari naiknya penerimaan dari pelanggan.
Posisi kas dan setara kas juga semakin kuat pada akhir Juni 2026. Kas meningkat 52 persen menjadi Rp6,88 triliun dari Rp4,52 triliun.
Pada saat yang sama, pinjaman bank justru mengalami penurunan. Pinjaman turun 25 persen menjadi Rp2,42 triliun dari Rp3,23 triliun.
PTBA juga telah merealisasikan belanja modal Rp1,09 triliun. Realisasi tersebut setara sekitar 30 persen dari target tahunan Rp3,64 triliun.
Mayoritas belanja modal diarahkan untuk pengembangan angkutan batu bara. Fokus utamanya berada pada relasi Tanjung Enim-Kramasan.
Baca juga: Berkat Strategi Ini, Krakatau Steel dan Kimia Farma Berbalik Cetak Laba
Target Produksi 49,55 Juta Ton hingga Akhir 2026
Memasuki sisa 2026, PTBA menetapkan sejumlah target operasional. Produksi batu bara ditargetkan mencapai 49,55 juta ton.
Volume penjualan ditargetkan sebesar 49,51 juta ton. Sementara volume angkutan dipatok 41 juta ton.
Perusahaan juga menetapkan stripping ratio sebesar 5,63 kali. Target tersebut menjadi pijakan perusahaan menghadapi sisa tahun berjalan.
Manajemen menyatakan efisiensi akan terus dijalankan secara cermat. Perusahaan juga akan mengoptimalkan kinerja operasional dan peluang pasar.
Disiplin operasional menjadi bagian penting dalam menjaga kinerja bisnis. Pengelolaan secara prudent diarahkan untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemangku kepentingan.
Dengan laba yang meroket dan arus kas yang menguat, Bukit Asam memasuki paruh kedua 2026 dengan pijakan lebih solid. Tantangannya kini menjaga momentum pemulihan sambil mengendalikan tekanan biaya operasional. (*)
Editor: Galih Pratama


