Poin Penting
- Penarikan SAL akan dikoordinasikan dengan BI agar likuiditas dan M0 tetap terjaga
- Purbaya mengandalkan M0 sebagai indikator likuiditas, yang pada Juli 2026 tumbuh 18,3 persen.
- Likuiditas kuat diharapkan mendorong kredit dan pertumbuhan sektor swasta.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan langkah pemerintah untuk memastikan penarikan Penempatan Uang Negara (PUN) atau Saldo Anggaran Lebih (SAL) di perbankan tidak mengganggu likuiditas.
Purbaya menjelaskan, pemerintah akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) apabila ingin menarik PUN atau SAL di himpunan bank milik negara (Himbara) agar tidak menganggu base money atau uang primer (M0).
“Kan kita bersama dengan bank sentral, nanti kalau kita terpaksa narik pun, itu kan SAL ya. SAL itu tidak dipakai sebelum dapat persetujuan DPR. Sebagian taruh di BI, sebagian taruh di sistem perbankan sesuai dengan kebutuhan manajemen cashflow kita. Kebetulan berdampak positif ke perbankan. Kalau mau dipakai nanti kita akan komunikasi dengan bank sentral, sehingga bas money tidak terganggu,” kata Purbaya saat ditemui di Kompleks DPR RI, dikutip, Kamis, 3 September 2026.
Baca juga: Purbaya Gandeng Swasta dan Danantara Dorong Ekonomi 6 Persen di 2027
Di samping itu, Purbaya menyatakan pihaknya tidak menggunakan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) untuk mengukur kondisi likuiditas melainkan menggunakan indikator base money (M0).
“Kan saya selalu bilang base money, M0, atau primary money. Itu biasanya selama ini cukup baik untuk menggambarkan keadaan likuiditas di sistem keuangan seluruhnya,” ucapnya.
Bendahara negara ini menyebutkan pertumbuhan base money pada Juli 2026 tumbuh 18,3 persen. Menurutnya, angka tersebut mampu untuk mendorong pertumbuhan kredit di atas 20 persen.
“Saya yakin kalau nggak berubah banyak, akhir bulan Agustus juga mungkin sekarang 18 persen sekitar segitu. Itu cukup kalau ditahan terus di posisi itu, cukup menciptakan pertumbuhan kredit di atas 20 persen. Data terakhir kan kredit 13,8 persen, meningkat dibanding sebelumnya karena pengaruh likuiditas di sistem keuangan kita,” jelasnya.
Baca juga: Purbaya Pastikan Tarif Pajak Tak Naik di 2027
Purbaya menilai koordinasi yang baik antara pemerintah dan bank sentral membuka ruang yang lebih besar untuk menjaga kondisi likuiditas perbankan tetap kuat. Dengan likuiditas yang terjaga, sektor swasta juga dapat tumbuh tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Jadi saya pikir dengan koordinasi yang lebih baik antara Kementerian Keuangan dengan bank sentral, ruang bagi kita untuk menciptakan kondisi likuiditas yang bagus untuk perbankan terbuka lebar. Artinya apa? Sektor non-government atau private sector itu bisa tumbuh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


