Poin Penting
- Kredit perbankan tumbuh 10,51 persen, tetapi penyaluran kredit UMKM masih melambat.
- Perbanas menilai perlambatan dipengaruhi melemahnya permintaan dari pelaku UMKM, bukan hanya faktor perbankan.
- Pertumbuhan kredit saat ini lebih banyak ditopang oleh kredit investasi yang meningkat hampir 22 persen.
Jakarta – Pertumbuhan kredit perbankan masih menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Namun, penyaluran kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) justru menghadapi tantangan.
Chief Economist Perbanas, Winang Budoyo mengungkapkan, perlambatan kredit UMKM bukan semata-mata disebabkan oleh faktor perbankan, tetapi turut dipengaruhi oleh sisi permintaan dari pelaku usaha.
Ia menjelaskan, kondisi likuiditas perbankan kini perlu menjadi perhatian usai suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) berada di level 5,75 persen.
Selain itu, tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga mengalami kenaikan yang lebih tinggi.
“BI Rate sudah di 5,75 persen. Di sisi lain, SRBI di akhir Juni mencapai 7,58 persen. Jadi kalau dikatakan BI Rate naik 100 basis poin, SRBI naik jauh lebih besar lagi,” ujar Winang, dalam Kelas Jurnalis Perbanas (KJP), di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Baca juga: KPR Take Over Kuasai 60 Persen Pasar, BTN Perkuat Strategi Akuisisi Nasabah
Menurut dia, kondisi likuiditas juga tecermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mengalami penurunan. Pada periode April-Mei 2026, LDR turun dari sekitar 86,6 persen lantaran pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang jauh lebih tinggi.
Pertumbuhan Kredit Didominasi Kredit Investasi
Winang menuturkan, meski kredit perbankan secara keseluruhan tumbuh 10,51 persen, pertumbuhan tersebut tidak merata di semua segmen.
Menurutnya, pertumbuhan kredit kini lebih banyak ditopang oleh kredit investasi yang pada Mei tumbuh hingga 21,95 persen atau hampir mencapai 22 persen.
Sementara itu, kredit modal kerja serta kredit konsumsi menunjukkan tren berbeda. Kredit modal kerja memang sempat mengalami kenaikan pada Mei, tetapi secara tren sejak awal 2024 terus mengalami penurunan.
Baca juga: Portofolio Kredit Pensiun Melonjak, Ini Cara Bank Capital Perkuat Loyalitas Nasabah
Adapun kredit konsumsi juga mengalami perlambatan dengan pertumbuhan sekitar 8,09 persen.
“Kredit retail dan kredit konsumtif seperti KPR maupun KPA sangat dipengaruhi faktor permintaan atau demand, sehingga pertumbuhannya ikut mengalami penurunan,” tandasnya.
Ia menambahkan, meski mengalami perlambatan, kredit modal kerja masih menjadi porsi terbesar dalam penyaluran kredit perbankan dengan kontribusi sekitar 42 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra


