Poin Penting
- Menperin menegaskan investor global menentukan lokasi investasi dalam hitungan bulan, bukan tahun.
- Perusahaan kini membandingkan kawasan industri di Indonesia dengan kawasan pesaing di Vietnam dan negara lain.
- Perizinan cepat, infrastruktur memadai, dan energi bersih menjadi penentu daya saing investasi.
Jakarta – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia tidak punya banyak waktu memenangkan investasi global. Investor manufaktur kini bergerak cepat dan menentukan lokasi produksi dalam hitungan bulan, bukan tahun.
Peringatan itu menunjukkan perubahan besar dalam peta persaingan investasi. Yang dipertarungkan bukan lagi nama negara, melainkan kecepatan dan kesiapan kawasan industri.
Agus menyampaikan hal tersebut saat membuka Rapat Kerja Nasional Himpunan Kawasan Industri (HKI) di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026. Ia menilai pengelola kawasan industri kini memegang peran menentukan bagi daya saing industri nasional.
Baca juga: Prabowo Sebut Penggilingan Padi Untung Rp2 Triliun, Mentan: Itu Dugaan Penipuan Beras
Investor Menilai Kawasan, Bukan Sekadar Negara
Agus menjelaskan perusahaan global tidak lagi membandingkan Indonesia dengan Vietnam secara umum. Mereka membandingkan kawasan industri tertentu di Indonesia dengan kawasan pesaing di negara lain.
“Yang mereka bandingkan bukanlah Indonesia melawan Vietnam. Yang mereka bandingkan adalah sebuah kawasan di Jawa Tengah melawan sebuah kawasan di Binh Duong,” kata Agus dikutip Antara.
Menurutnya, unit persaingan ekonomi global telah bergeser ke tingkat kawasan. Karena itu, kualitas tata kelola kawasan industri menjadi penentu utama masuknya investasi.
Di tengah fragmentasi perdagangan dan gangguan rantai pasok, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar. Namun peluang itu hanya terbuka bagi kawasan yang mampu bergerak lebih cepat.
Keputusan Investor Kini Ditentukan dalam Hitungan Bulan
Menperin menegaskan perpindahan produksi global berlangsung sangat cepat. Investor tidak menunggu satu negara memperbaiki diri terlalu lama.
“Perusahaan yang hari ini sedang memindahkan produksinya dari satu negara ke negara lain tidak sedang menunggu Indonesia. Mereka sedang membandingkan kita dengan Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko, dan mereka melakukannya dalam hitungan bulan, bukan tahun,” ujarnya.
Baca juga: Kemenperin Percepat Pemulihan 3.020 IKM Terdampak Bencana Sumatra
Pernyataan itu menjadi sinyal keras bagi kawasan industri di Indonesia. Keterlambatan perizinan atau pembangunan infrastruktur bisa langsung mengalihkan investasi ke negara pesaing.
Agus menilai kawasan industri tidak lagi cukup menyediakan lahan dan utilitas. Kawasan harus mampu mempercepat realisasi investasi hingga masuk tahap produksi.
Energi Bersih dan Perizinan Jadi Penentu Kemenangan
Menperin meminta kawasan industri bertransformasi menjadi investment enabler. Kawasan harus mengintegrasikan rantai pasok, inovasi, pengembangan SDM, dan industri hijau.
Ia menekankan tiga faktor penentu daya saing ke depan. Ketiganya adalah perizinan cepat dan pasti, infrastruktur memadai, serta ketersediaan energi terbarukan.
Menurut Agus, energi bersih kini menjadi tuntutan pasar global. Banyak pembeli internasional mulai menanyakan sumber energi dalam proses produksi.
“Kalau kawasan tidak mampu menjawab pertanyaan itu, mereka berisiko kehilangan penyewa, bukan karena regulasi kita, melainkan karena regulasi negara tujuan ekspor,” kata Agus.
Pernyataan tersebut menegaskan persaingan investasi semakin ketat dan bergerak cepat.
Di akhir pesannya, Menperin menekankan Indonesia harus memperkuat kawasan industri agar tidak kehilangan peluang relokasi manufaktur global. (*)
Editor: Yulian Saputra


