Poin Penting
- KPR take over mendominasi pembiayaan properti semester I 2026 dengan porsi 60 persen, melampaui KPR origin sebesar 40 persen
- BTN memfokuskan bisnis pada KPR take over, seiring meningkatnya minat masyarakat mengalihkan kredit akibat tingginya suku bunga floating
- Kinerja KPR take over BTN tumbuh 40 persen secara tahunan pada semester I 2026, dengan 200-300 nasabah dan ticket size Rp300-500 juta.
Jakarta – Tren pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) pada semester I 2026 menunjukkan pergeseran. Berdasarkan Pinhome Indonesia Residential Property Market Report Semester I 2026, transaksi KPR take over mendominasi pembiayaan properti dengan porsi 60 persen, melampaui KPR origin yang hanya mencapai 40 persen.
Institutional Relationship Department Head Bank Tabungan Negara (BTN), Yulia Fitri Nurman, mengatakan dominasi KPR take over tidak terlepas dari dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih berhati-hati mengambil KPR baru, sekaligus mendorong peningkatan permintaan pengalihan kredit untuk menghindari beban bunga mengambang (floating rate) yang lebih tinggi.
Baca juga: BTN Bidik Penyaluran KPR Rp15 Triliun di Era Suku Bunga Tinggi
“Saat ini sepertinya selektif banget untuk KPR baru. Tapi, jika untuk secondary, untuk takeover itu kita lagi bertumbuh. Jadi, mungkin kalau saya pribadi itu melihat nanti ada perubahan tren dari yang primary itu berubah ke second sama yang ke takeover,” ujar Yulia saat ditemui di Jakarta, Rabu (29/7).
Menurutnya, rumah di pasar sekunder umumnya ditawarkan dengan harga yang lebih rendah dibandingkan rumah baru. Faktor tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat memilih membeli rumah bekas sekaligus memanfaatkan fasilitas KPR take over.
BTN pun menjadikan segmen tersebut sebagai fokus kerja sama dengan Pinhome.
“Makanya kita juga (kerja sama) di Pinhome target utama kita sebenarnya itu untuk takeover. Bukan untuk rumah baru. Jadi, misalnya alihkan KPR dari yang tadinya itu sudah masuk suku bunga floating di bank asal, lalu pindahkan ke bank BTN,” sebut Yulia.
Di tengah perlambatan pertumbuhan bisnis KPR yang tercatat sebesar 4,7 persen pada Mei 2026, BTN tetap optimistis mampu membukukan pertumbuhan bisnis KPR sebesar 8-11 persen sepanjang 2026, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Optimisme tersebut ditopang oleh masih besarnya backlog perumahan di Indonesia serta berbagai program pemerintah yang bertujuan memperluas akses kepemilikan rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
“Misalnya untuk MBR itu ada FLPP lalu tahun lalu kan program 3 juta rumah. Terus ada juga MLT BPJS Ketenagakerjaan bagi member BPJS TK yang memberikan 3 asuransi yakni KPR, renovasi rumah, pinjaman uang muka tanpa suku bunga promo dan tanpa floating,” terangnya.
Baca juga: BTN: Transformasi Digital Berawal dari Rumah, Pengguna Bale by BTN Tembus 4,3 Juta
Yulia mengungkapkan, hingga semester I 2026 jumlah nasabah KPR take over BTN telah mencapai sekitar 200-300 nasabah dengan ticket size berkisar Rp300 juta hingga Rp500 juta. Kinerja pembiayaan KPR take over perseroan juga tumbuh sekitar 40 persen secara tahunan.
Ke depan, BTN memperkirakan permintaan KPR take over akan terus meningkat. Untuk menangkap peluang tersebut, perseroan telah menyiapkan sejumlah program, salah satunya layanan instant approval yang memungkinkan proses pengajuan dilakukan tanpa analisis ulang, sehingga diharapkan dapat mempercepat proses perpindahan KPR dari bank lain. (*) Steven Widjaja


