Poin Penting
- Harga emas dunia naik 0,7 persen ke USD4.068,54 per ons, didorong pelemahan dolar AS
- Investor menanti data tenaga kerja AS yang akan menentukan arah suku bunga The Fed
- Emas masih berpeluang menguat, meski dibayangi risiko kenaikan suku bunga AS.
Jakarta – Harga emas dunia menguat ke level USD4.068,54 per ons, naik 0,7 persen pada perdagangan Senin (3/8). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik 0,9 persen menjadi USD4.066,60.
Dinukil Reuters, Senin (3/8), penguatan harga emas terjadi, seiring turunnya harga minyak dunia usai Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran akan berlangsung pada Senin waktu setempat.
Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah yang sebelumnya mendorong lonjakan harga energi.
Di sisi lain, dolar AS juga berada di bawah tekanan setelah otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen.
Pelemahan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi investor global sehingga meningkatkan permintaan.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer mengatakan harga emas memulai pekan dengan sentimen positif, meski penguatannya masih dibatasi ketidakpastian perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak.
Baca juga: JP Morgan Proyeksi Harga Emas Tembus USD6.300 pada 2027
“Emas mengawali pekan dengan cukup positif, tetapi kenaikannya masih terbatas karena pasar tetap berhati-hati terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah dan pasar energi,” kata Waterer.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian Investor
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menunggu sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pekan ini.
Data yang akan dirilis meliputi lowongan pekerjaan atau Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), laporan tenaga kerja versi ADP, klaim tunjangan pengangguran mingguan, hingga data non-farm payrolls (NFP) yang menjadi acuan utama kondisi pasar tenaga kerja AS.
Menurut Waterer, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperbesar peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada September. Kondisi tersebut berpotensi menahan kenaikan harga emas.
“Jika konflik di Timur Tengah kembali memanas dan mendorong harga minyak naik, atau data NFP lebih kuat sehingga meningkatkan peluang kenaikan suku bunga, ruang penguatan emas bisa menjadi lebih terbatas,” ujarnya.
Baca juga: Harga Emas Dunia Stabil di Level Tinggi usai Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Turun
Pekan lalu, tiga pejabat Federal Reserve yang berbeda pendapat dalam rapat kebijakan menyatakan inflasi masih berada di atas target bank sentral sebesar 2 persen. Mereka menilai kenaikan suku bunga masih diperlukan untuk menekan tekanan harga.
Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil atau bunga, sehingga daya tariknya cenderung berkurang dibandingkan instrumen investasi lain.
Standard Chartered Prediksi Emas Masih Berpeluang Menguat
Meski demikian, analis Standard Chartered menilai harga emas masih berpotensi menemukan level dukungan dalam jangka pendek sebelum kembali menguat, didorong oleh meningkatnya permintaan musiman.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 1,4 persen menjadi USD58,46 per ons, platinum bertambah 0,5 persen ke USD1.650,63 per ons, sedangkan paladium menguat 1,6 persen menjadi USD1.293,50 per ons. (*)
Editor: Galih Pratama


