Poin Penting
- J.P. Morgan memproyeksikan harga emas dunia mencapai USD6.000 per ons pada kuartal IV 2026 dan naik menjadi USD6.300 per ons pada akhir 2027
- Prospek kenaikan harga emas ditopang pembelian bank sentral, meningkatnya cadangan emas Tiongkok, serta risiko geopolitik dan inflasi yang masih membayangi ekonomi global
- Selain bank sentral, potensi lonjakan permintaan emas juga diperkirakan datang dari perusahaan asuransi di Tiongkok yang mulai mengalokasikan asetnya ke emas fisik.
Jakarta – J.P. Morgan Global Research memproyeksikan harga rata-rata emas dunia masih memiliki ruang penguatan dalam dua tahun ke depan.
Bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas akan mencapai USD6.000 per ons pada kuartal IV 2026 dan melonjak hingga USD6.300 per ons pada akhir 2027, meski minat investor saat ini dinilai mulai melemah.
Kepala Divisi Logam Dasar dan Mulia J.P. Morgan, Greg Shearer, mengatakan pergerakan harga emas masih berada dalam fase konsolidasi.
Baca juga: Harga Emas Dunia Stabil di Level Tinggi usai Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Turun
Menurutnya, logam mulia itu bergerak di atas rata-rata pergerakan selama 200 hari, tetapi belum mampu menembus rata-rata pergerakan selama periode 50 hari sehingga arah pergerakannya masih belum jelas.
“Emas saat ini terjebak dalam situasi teknis yang tidak menentu. Di tengah pergerakan harga yang mendatar dan kekhawatiran bahwa The Fed mungkin kembali menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi, emas untuk sementara menjadi prioritas kedua bagi sebagian besar investor,” kata Shearer dalam risetnya, dinukil laman JP Morgan, Senin, 6 Juli 2026.
Ia bilang, ketidakpastian tersebut tak mengubah prospek jangka panjang emas. Konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) justru memperkuat alasan investor melakukan diversifikasi aset ke emas sebagai instrumen lindung nilai.
Baca juga: Airlangga Nilai Ekonomi RI Masih Resilien, Ini Buktinya
Selain risiko geopolitik, Shearer menilai masih terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menopang harga emas dalam jangka panjang.
Faktor tersebut meliputi kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi, penurunan daya beli, memburuknya kondisi fiskal AS, meningkatnya fragmentasi geopolitik, serta ketidakpastian arah kebijakan pemerintah AS.
Meski demikian, menurut dia, sebagian sentimen tersebut masih tertahan hingga terdapat kepastian mengenai perkembangan konflik di Timur Tengah yang dapat mengurangi risiko lonjakan harga energi dan tekanan inflasi global.
Pembelian Bank Sentral Tetap Menjadi Penopang
J.P. Morgan menilai, pembelian emas oleh bank sentral dunia masih menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Sepanjang periode 2021 hingga 2025, rata-rata pembelian emas oleh bank sentral mencapai sekitar 225 ton per kuartal, atau hampir dua kali lipat dibandingkan periode 2016–2020.
Memasuki 2026, laju pembelian secara resmi memang terlihat melambat. Pada kuartal pertama tahun ini, bank sentral secara bersih hanya membukukan pembelian sekitar 16 ton, sementara penjualan terbesar berasal dari Turki yang melepas sekitar 60 ton emas pada Maret.
Baca juga: EMAS Mulai Kirim 44 Kg Dore ke Antam, Siap Masuk Tahap Komersial
Namun, Shearer menilai data tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya.
Mengacu pada analisis World Gold Council, sebagian besar transaksi pembelian emas bank sentral tidak tercatat secara resmi karena tidak ada kewajiban pelaporan kepada Dana Moneter Internasional (IMF).
Dengan menggunakan data perdagangan pasar over-the-counter (OTC) London dan arus ekspor-impor dari kilang emas Swiss, World Gold Council memperkirakan pembelian emas bank sentral justru meningkat menjadi 244 ton pada kuartal I 2026, lebih tinggi dibandingkan 208 ton pada kuartal IV 2025.
Tiongkok Tingkatkan Cadangan Emas
Menariknya, salah satu negara yang dinilai aktif menambah cadangan emas yakniTiongkok.
Menurut Shearer, impor bersih emas Tiongkok melonjak menjadi 317 ton pada kuartal I 2026, hampir tiga kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Selain itu, People’s Bank of China juga meningkatkan pembelian emas yang dilaporkan. Setelah selama enam bulan hingga Februari rata-rata hanya membeli sekitar satu ton per bulan, bank sentral Tiongkok membeli lima ton pada Maret dan meningkat menjadi delapan ton pada April.
J.P. Morgan menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Tiongkok untuk memperkuat cadangan emas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap aset berdenominasi dolar AS.
Strategi itu dinilai semakin relevan setelah pembekuan aset bank sentral Rusia pada 2022, yang memicu kekhawatiran sejumlah negara terhadap keamanan cadangan devisa yang ditempatkan dalam aset dolar AS.
Perusahaan Asuransi Berpotensi Tambah Permintaan
Selain bank sentral, J.P. Morgan melihat potensi peningkatan permintaan emas juga berasal dari sektor asuransi di Tiongkok.
Pada awal 2025, regulator Tiongkok memberikan izin kepada 10 perusahaan asuransi terbesar untuk mengalokasikan hingga 1 persen dari total aset kelolaan (assets under management/AUM) ke dalam emas fisik. Pada saat kebijakan diterbitkan, nilai tersebut setara dengan sekitar 200 ton emas.
Menurut sejumlah pelaku industri, batas alokasi tersebut berpotensi meningkat hingga 5 persen di masa mendatang.
Jika terealisasi, permintaan tambahan dari sektor asuransi diperkirakan dapat menjadi salah satu faktor yang semakin memperkuat prospek harga emas global dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Editor: Galih Pratama


