Poin Penting
- The Fed menahan suku bunga di level 3,50–3,75 persen dengan hasil voting 9-3, meski tiga pejabat mendesak kenaikan 25 bps untuk menekan inflasi
- Perbedaan pandangan di internal The Fed mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi yang masih berada di atas target 2 persen
- Pasar kini mencermati peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September jika tekanan inflasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Jakarta – Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya dalam kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu (30/7).
Namun, keputusan tersebut diwarnai penolakan dari tiga pejabat regional yang menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Melansir CNBC, 30 Juli 2026, dalam pemungutan suara, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga dengan hasil 9 suara berbanding 3.
Baca juga: BCA Naikkan Suku Bunga Kredit Secara Selektif, Ini Pertimbangannya
Tiga suara penolak berasal dari Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan.
Ketiganya menilai inflasi di AS masih terlalu tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda kembali ke target jangka panjang The Fed sebesar 2 persen.
Dalam pernyataan resminya, FOMC menyebut ketiga pejabat tersebut “lebih memilih menaikkan target kisaran suku bunga federal funds sebesar seperempat poin persentase pada pertemuan kali ini.”
Ini menjadi pertama kalinya sejak September 2016 terdapat tiga suara berbeda dengan pandangan yang sama mengenai arah kebijakan suku bunga.
Keputusan tersebut sekaligus menjadi ujian awal bagi Ketua The Fed Kevin Warsh, yang dinilai belum memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Sikap Warsh yang enggan memberikan forward guidance membuat ketidakpastian di pasar meningkat menjelang rapat FOMC.
Meski demikian, pasar secara umum telah memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan kali ini hanya sekitar sepertiga, sementara mayoritas pelaku pasar memperkirakan suku bunga tetap dipertahankan.
Dalam pernyataan pascarapat, The Fed mempertahankan narasi yang hampir identik dengan pertemuan sebelumnya pada Juni.
Bank sentral AS menilai aktivitas ekonomi masih tumbuh solid meskipun ketidakpastian global tetap tinggi, antara lain dipengaruhi konflik di Timur Tengah.
Selain itu, The Fed menyebut pertumbuhan lapangan kerja masih sejalan dengan perkembangan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran relatif stabil meski jumlah tenaga kerja mengalami penurunan.
Pernyataan tersebut kembali ditutup dengan komitmen bahwa “Komite akan mewujudkan stabilitas harga.”
Di sisi lain, meningkatnya jumlah pejabat yang mendukung kebijakan moneter lebih ketat menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi yang belum terkendali.
Tekanan harga dinilai masih dipengaruhi kebijakan tarif Presiden Donald Trump serta kenaikan harga energi akibat konflik Iran.
Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi FOMC pada Juni lalu yang memperkirakan masih akan ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps sebelum akhir 2026.
Sementara itu, Gubernur The Fed Christopher Waller, yang sebelumnya juga menyuarakan kekhawatiran terhadap inflasi, memilih mendukung keputusan mempertahankan suku bunga pada rapat kali ini.
Baca juga: DBS Ramal The Fed Tahan Suku Bunga Tahun Ini, Inflasi AS Masih Jadi Perhatian
Warsh sendiri berulang kali menegaskan bahwa inflasi merupakan persoalan yang harus segera dikendalikan.
Namun, ia juga menekankan perlunya perubahan cara komunikasi The Fed dengan mengurangi praktik pemberian panduan eksplisit mengenai arah suku bunga di masa depan.
Perbedaan pandangan di internal FOMC diperkirakan akan terus menjadi perhatian pelaku pasar, terutama menjelang pertemuan berikutnya pada September, ketika ekspektasi kenaikan suku bunga mulai menguat apabila tekanan inflasi belum juga mereda. (*)


