Poin Penting
- Pinhome mencatat penjualan rumah baru turun 1 persen per bulan pada semester I 2026, meski pencarian rumah meningkat rata-rata 13 persen per bulan
- Pelemahan permintaan hunian dipicu tekanan ekonomi pada kelas menengah, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga gelombang PHK
- Pinhome memproyeksikan pasar properti masih lesu pada kuartal III 2026 seiring suku bunga yang tetap tinggi dan pembeli masih menunda transaksi.
Jakarta – Layanan agregator properti Pinhome mencatat permintaan hunian masih menghadapi tekanan sepanjang semester I 2026. Kondisi tersebut tercermin dari penjualan rumah baru yang mengalami kontraksi, meski minat masyarakat untuk mencari hunian tetap meningkat.
Berdasarkan Pinhome Indonesia Residential Property Market Report Semester I 2026, penjualan rumah baru terkontraksi rata-rata 1 persen per bulan sepanjang semester I 2026. Di sisi lain, aktivitas pencarian rumah untuk dibeli justru meningkat rata-rata 13 persen per bulan.
CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan perlambatan penjualan terutama dipicu melemahnya permintaan dari segmen masyarakat kelas menengah.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari tekanan ekonomi yang dihadapi kelompok tersebut, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya biaya utilitas seperti listrik dan BBM, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang turut menekan daya beli.
Baca juga: BI Catat Kredit Properti Naik 17,2 Persen jadi Rp1.690,8 Triliun pada Mei 2026
“Kita lihat karena dari sisi demandnya ini memang (pengaruhnya) lebih soft. Kita juga melihat bahwa ini berpengaruh ke transaksi, jadi orang mencari tapi belum membeli saat ini,” ujar Dayu dalam Media Talk Show di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.
Di sisi lain, Dayu menerangkan, tekanan ekonomi tersebut justru mendorong peningkatan pasokan rumah seken di pasar. Banyak pemilik rumah, khususnya dari kelompok masyarakat kelas menengah, memilih menjual asetnya untuk memperoleh tambahan likuiditas di tengah tekanan ekonomi.
Sebagai contoh, misalnya, di kawasan industri seperti Kabupaten Tangerang, Bekasi, dan Malang yang masing-masing mengalami peningkatan iventori rumah seken dijual pada semester I 2026 sebesar 8,4 persen, 4,9 persen, dan 4,2 persen.
Walaupun masih banyak terjadi mismatch antara ekspektasi harga penjual rumah secondary dengan pembeli yang menyebabkan transaksi pembelian belum banyak terjadi, Daya berharap supply rumah secondary ini dapat memberikan prospek positif ke depannya.
“Yang penting dari demand sudah ada awareness, sudah ada niat dan minat. Hanya masalah waktu. Selama supply ada motivasi jual tinggi, mudah-mudahan nanti bisa bertemu,” ucapnya.
Baca juga: Properti Komersial Masih Menjanjikan, Ini Kunci Keberhasilan Pengembang Menangkap Peluang Pasar
Prospek Kuartal III 2026
Untuk kuartal III 2026, Pinhome memperkirakan pasar hunian masih akan menghadapi tantangan. Meskipun secara historis permintaan properti biasanya meningkat pada periode tersebut, suku bunga yang masih berada di level tinggi diperkirakan membuat masyarakat menunda keputusan membeli rumah.
“Yang berarti mungkin orang yang mau membeli properti masih pikir-pikir, karena takut nanti pada saat floating bunganya masih tinggi. Semoga membaik di kuartal III, tapi kita rasa kuartal 3 tahun ini dibandingkan tahun lalu, tak akan lebih baik,” pungkasnya. (*) Steven Widjaja


