Poin Penting
- DBS memproyeksikan The Fed menahan suku bunga hingga akhir 2026
- Setiap rapat FOMC diperkirakan memicu volatilitas pasar
- Ketidakpastian The Fed berpotensi menekan dolar, arus modal, dan pasar global.
Jakarta – Bank DBS memproyeksikan Federal Reserve alias The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir tahun.
Meski demikian, pasar keuangan diperkirakan tetap dibayangi ketidakpastian global lantaran arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi.
Ekonom Senior DBS Group, Radhika Rao, mengungkapkan, proyeksi tersebut merupakan pandangan utama tim ekonom Amerika Serikat di DBS, yang belum melihat adanya kebutuhan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.
“Pandangan ekonom AS saat ini adalah bahwa suku bunga akan tetap tidak berubah tahun ini. Jadi mereka bahkan tidak mengharapkan kenaikan suku bunga dana Fed. Tetapi mereka masih berpendapat bahwa inflasi di AS bukan hanya tentang minyak. Ada hal-hal lain juga yang bekerja di latar belakang yang dapat menjaga inflasi tetap tinggi,” ujar Radhika dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.
Baca juga: Dana Kelolaan Nasabah Kaya DBS Tumbuh 13 Persen pada Juni 2026
Menurutnya, tekanan inflasi di Amerika Serikat tak semata-mata dipicu oleh kenaikan harga energi. Sejumlah faktor lain yang bersifat struktural masih menopang inflasi sehingga membuat The Fed harus tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Setiap Rapat FOMC Berpotensi Menggerakkan Pasar
Lebih lanjut, meski skenario dasar DBS adalah suku bunga tetap bertahan, Radhika menilai bahwa komunikasi pimpinan baru The Fed akan menjadikan pasar kian sulit membaca arah kebijakan bank sentral tersebut.
Ia mengatakan, ketua baru The Fed diperkirakan akan lebih sedikit memberikan petunjuk (forward guidance) kepada publik. Kondisi itu membuat setiap rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi pertemuan yang sangat menentukan bagi pasar keuangan.
“Ketua baru yang telah datang akan berbicara semakin sedikit. Artinya, setiap pertemuan akan menjadi pertemuan yang benar-benar menentukan. Pasar tidak akan yakin apakah pada pertemuan tersebut akan terjadi perubahan arah kebijakan atau tidak,” ujarnya.
Menurut Radhika, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar karena investor akan terus menyesuaikan ekspektasi terhadap kemungkinan perubahan suku bunga.
Baca juga: Ekonom Beberkan 5 Karakter yang Harus Dimiliki Pengganti Perry Warjiyo di BI
“Mereka akan sampai pada titik di mana pasar tidak begitu yakin. Pasar akan memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga, tetapi itu mungkin terjadi atau mungkin juga tidak terjadi,” ujarnya.
Belum Ada Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed
Meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi, DBS masih mempertahankan proyeksi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
“Pandangan inti kami berdasarkan ekonom AS kami adalah bahwa suku bunga dana Fed akan tetap tidak berubah, tidak ada kenaikan suku bunga. Namun karena ketua baru tidak ingin banyak berbicara, setiap rapat akan menjadi pertemuan yang sulit diprediksi sehingga pasar tidak akan tahu apa yang harus diantisipasi,” kata Radhika.
Ia menambahkan, ketidakpastian komunikasi The Fed akan menjadi faktor yang terus memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk nilai tukar dolar AS, arus modal internasional, serta pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Diketahui, pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, dijadwalkan rilis pada Kamis dini hari, 30 Juli 2026, sekitar pukul 01.00 WIB. Pengumuman ini mencakup keputusan suku bunga acuan serta konferensi pers resmi.
Mayoritas analis memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen–3,75 persen, meskipun pasar tetap mewaspadai potensi sinyal pengetatan lanjutan (hawkish) akibat dinamika inflasi. (*)
Editor: Galih Pratama


