Poin Penting
- CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi RI kuartal II 2026 hanya 4,8–4,9 persen, melambat dari realisasi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen
- Perlambatan dipicu melemahnya konsumsi rumah tangga yang diperkirakan hanya tumbuh 4,7–4,9 persen, meski konsumsi pemerintah diproyeksi melonjak 20–23 persen
- Untuk sepanjang 2026, CORE mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9–5,1 persen, sama seperti proyeksi yang dirilis tahun lalu.
Jakarta – Center of Reform on Economics (CORE Indonesia) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2026 di kisaran 4,8 hingga 4,9 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan realisasi di kuartal I 2026 yang sebesar 5,61 persen.
“Hitung-hitungan kami memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 adalah antara 4,8 sampai 4,9 persen,” kata A. Akbar Susamto, Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal & Moneter CORE Indonesia dalam CORE Mid Year Economic Review, Rabu, 29 Juli 2026.
Baca juga: Prabowo: Pakar Ramal 25 Tahun Lagi Ekonomi RI Terbesar Keempat di Dunia
Dalam paparannya, Akbar menjelaskan, konsumsi rumah tangga diproyeksikan pada kuartal II 2026 sebesar 4,7 hingga 4,9 persen. Ini lebih rendah dari realisasi di kuartal I 2026 yang senilai 5,52 persen.
Kemudian, lanjutnya, konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh 20 hingga 23 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 6,8 hingga 7,5 persen.
Sementara, ekspor barang dan jasa diproyeksi sebesar 7 hingga 8 persen, dan impor barang dan jasa 4,8 hingga 4,9 persen di kuartal II 2026.
Baca juga: BI Dorong Pembiayaan Produktif untuk Perkuat Pertumbuhan Ekonomi
Lebih jauh Akbar memproyeksi keseluruhan tahun 2026 pertumbuhan ekonomi berkisar di level 4,9 hingga 5,1 persen. Proyeksi tersebut tidak berubah dari hitungan yang sudah dilakukan pada tahun lalu.
“Kami tidak mengubah proyeksi kami. Di tahun lalu, kita sudah melakukan proyeksi di Economic Outlook, bahwa kami memproyeksi pertumbuhan ekonomi yang akan mencapai antara 4,9 sampai 5,1 persen dan kemungkinan angkanya masih segitu,” ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama


