Poin Penting
- Likuiditas BCA tetap kuat hingga semester I 2026, ditopang pertumbuhan CASA 10,2 persen yoy menjadi Rp1.082 triliun dan DPK naik 7,9 persen menjadi Rp1.284 triliun
- BCA tidak merevisi RBB 2026 dan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8–10 persen pada semester II 2026
- Laba bersih BCA mencapai Rp29,5 triliun, didorong kredit yang untuk pertama kalinya menembus Rp1.036 triliun atau tumbuh 8 persen yoy hingga Juni 2026.
Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memastikan kondisi likuiditas perseroan masih terjaga dengan baik, didukung oleh pendanaan yang solid hingga semester I 2026.
“Secara umum untuk BCA kita cukup beruntung likuiditas kita tetap terjaga dengan baik,” ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam paparan kinerja BCA semester I 2026, dikutip, Rabu, 29 Juli 2026.
Hendra menyampaikan, tetap terjaganya likuiditas tersebut tercermin dari pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 10,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.082 triliun, dengan porsi CASA mencapai sekitar 84,3 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK).
Baca juga: Paylater BCA Tumbuh 8 Persen, Nasabah Lebih Banyak Memilih Tenor Pendek
Sementara itu, total Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 7,9 persen yoy menjadi Rp1.284 triliun.
Ke depan, BCA akan terus mengelola likuiditas dengan prinsip kehati-hatian serta mencermati dinamika makro ekonomi, baik domestik maupun global, guna mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
BCA Tak Revisi RBB
Sementara, Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim juga memastikan tidak akan merevisi Rancangan Bisnis Bank (RBB) pada semester II 2026. Perseroan juga tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 8–10 persen.
“Tidak ada (revisi RBB), kita tetap mempertahankan target daripada pertumbuhan kredit di RBB itu di kisaran 8 sampai 10 persen,” kata Vera.
Sebagai informasi, BCA berhasil mencetak laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp29,5 triliun hingga semester I 2026.
Baca juga: Bos BCA Titip Pesan Ini untuk Calon Gubernur BI
Capaian laba tersebut ditopang oleh penyaluran kredit yang pertama kalinya tembus Rp1.000 triliun. Per Juni 2026, penyaluran kredit BCA tumbuh 8 persen year on year (yoy) mencapai Rp1.036 triliun.
Kredit BCA ditopang pembiayaan produktif senilai Rp802 triliun, meningkat 11 persen yoy. Penyaluran kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6 persen yoy mencapai Rp513,4 triliun, serta kredit komersial dan UKM yang tumbuh 6,6 persen yoy mencapai Rp288,5 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama


