Poin Penting
- Laba Bank BJB melonjak, dengan laba bersih konsolidasi naik 39,34 persen menjadi Rp992,17 miliar dan bank only melesat 73,46 persen
- Efisiensi mendongkrak profit, terlihat dari NII naik 9,05 persen, NIM membaik menjadi 3,89 persen, dan BOPO turun ke 87,52 persen
- Fundamental tetap kuat, aset naik 5,71 persen dan DPK tumbuh 2,72 persen, meski kredit turun 2,64 persen dan NPL meningkat.
Jakarta – Laba bersih Bank BJB mencatat rapor yang bagus pada semester I-2026. Hingga Juni 2026, bank yang dipimpin Ayi Subarna sebagai direktur utama ini membukukan laba bersih Rp992,17 miliar secara konsolidasi atau tumbuh 39,34 persen year on year (yoy) dibandingkan Rp712,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara, secara bank only, Bank BJB membukukan laba bersih Rp744,29 miliar, melesat 73,46 persen dari Rp429,09 miliar di Juni 2025. Peningkatan laba ini menjadi salah satu capaian Bank BJB yang paling menonjol.
Pertumbuhan laba bank ini terjadi meski pendapatan bunga mengalami penurunan. Mengutip laporan publikasi Bank BJB pada Rabu (29/7), pendapatan bunga turun 3,20 persen menjadi Rp8,21 triliun dari Rp8,48 triliun pada Juni 2025.
Tapi kabar baiknya, beban bunga mampu ditekan lebih dalam, yakni turun 12,30 persen menjadi Rp4,27 triliun dari Rp4,87 triliun sehingga memberikan ruang yang lebih besar bagi profitabilitas.

Keberhasilan menekan cost of fund membuat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) Bank BJB justru meningkat. Pendapatan bunga bersih tumbuh 9,05 persen menjadi Rp3,94 triliun dari Rp3,61 triliun.
Baca juga: Bank BJB Perluas Penyaluran KUR PMI ke Jepang lewat Kemitraan LPK Asta Karya
Kondisi ini menunjukkan bisnis inti Bank BJB masih mampu menghasilkan pendapatan yang lebih baik meski tekanan terhadap pendapatan bunga masih terjadi.
Lebih jauh, efisiensi juga menjadi faktor penting yang mengangkat laba Bank BJB. Beban operasional lainnya turun 2,48 persen menjadi Rp2,69 triliun dari Rp2,75 triliun.
Kombinasi turunnya beban bunga dan beban operasional membuat ruang laba semakin lebar, sehingga kinerja bottom line mampu melesat jauh dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan kata lain, pertumbuhan laba Bank BJB lebih banyak ditopang oleh efisiensi daripada ekspansi bisnis. Strategi pengendalian biaya berjalan efektif sehingga mampu mengimbangi perlambatan pada sisi pendapatan bunga dan penyaluran kredit.
Kualitas pengelolaan operasional menjadi mesin utama yang membuat laba bank ini terbang lebih tinggi pada semester pertama 2026.
Dari sisi fungsi intermediasi, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) masih menunjukkan pertumbuhan meski relatif terbatas. DPK naik 2,72 persen menjadi Rp160,87 triliun dari Rp156,60 triliun.
Dana murah yang terdiri dari giro dan tabungan juga meningkat 2,12 persen menjadi Rp71,07 triliun, meskipun rasio CASA sedikit turun dari 44,44 persen menjadi 44,18 persen, menandakan komposisi dana murah masih cukup terjaga.
Sementara, penyaluran kredit masih menjadi pekerjaan rumah Bank BJB. Kredit turun 2,64 persen menjadi Rp140,37 triliun dari Rp144,18 triliun pada Juni 2025.
Di sisi lain, kualitas kredit sedikit melemah dengan rasio NPL gross naik dari 2,62 persen menjadi 3,33 persen dan NPL net meningkat dari 1,22 persen menjadi 1,55 persen.
Tapi, kedua rasio itu masih berada di bawah batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga tingkat risiko kredit masih tergolong terkendali.
Di tengah kondisi itu, aset Bank BJB tetap tumbuh positif. Total aset meningkat 5,71 persen menjadi Rp228,25 triliun dibandingkan Rp215,92 triliun pada Juni 2025. Pertumbuhan aset ini mencerminkan fundamental bank yang masih solid walaupun ekspansi kredit belum kembali agresif.
Perbaikan efisiensi juga tercermin dari berbagai rasio keuangan. NIM naik dari 3,65 persen menjadi 3,89 persen, yang menunjukkan kemampuan Bank BJB menghasilkan margin dari bisnis inti semakin baik.
BOPO turun signifikan dari 93,41 persen menjadi 87,52 persen, sedangkan CIR membaik dari 76,86 persen menjadi 64,92 persen, mencerminkan pengelolaan biaya yang semakin efektif dan operasional yang lebih efisien.
Baca juga: Bank BJB Tawarkan ORI030 dengan Kupon hingga 7 Persen
Rasio profitabilitas pun mengalami peningkatan yang sangat baik. ROA naik dari 0,56 persen menjadi 1,00 persen. Hal ini menandakan aset dikelola semakin produktif dalam menghasilkan laba.
Sedangkan ROE meningkat dari 6,25 persen menjadi 10,36 persen, mencerminkan kemampuan manajemen mengelola modal semakin kuat.
Di sisi likuiditas, LDR berada di level 81,74 persen, masih berada dalam kisaran ideal 78-92 persen, sementara CAR meningkat menjadi 20,12 persen, memperlihatkan permodalan Bank BJB tetap kokoh untuk menopang pertumbuhan bisnis ke depan. (*) Ari Nugroho


