Poin Penting:
- PT Timah membukukan laba bersih Rp2,71 triliun pada semester I 2026.
- Pendapatan perseroan melonjak 247 persen menjadi Rp10,42 triliun.
- Produksi dan penjualan logam timah meningkat tajam didukung pasar ekspor.
Jakarta – PT Timah (Persero) Tbk langsung melampaui target tahunan hanya dalam enam bulan. Perseroan membukukan laba bersih Rp2,71 triliun pada semester I 2026.
Angka itu setara 169 persen dari target 2026. Target laba bersih perseroan dipatok Rp1,61 triliun.
Kinerja tersebut ditopang lonjakan pendapatan dan produksi. Harga timah global juga tetap kuat sepanjang semester pertama.
Baca juga: Direktur PT Timah (TINS) Nur Adi Kuncoro Diberhentikan Sementara, Ada Apa?
Pendapatan PT Timah Melonjak 247 Persen
PT Timah mencatat pendapatan Rp10,42 triliun pada semester I 2026. Angka ini melonjak 247 persen dibanding periode sama 2025 sebesar Rp4,22 triliun.
Kenaikan didorong pertumbuhan volume penjualan. Harga jual rata-rata logam timah juga meningkat signifikan.
Laba usaha ikut melonjak menjadi Rp3,48 triliun. Tahun lalu, laba usaha hanya Rp0,38 triliun.
EBITDA perseroan mencapai Rp3,90 triliun. Nilai ini tumbuh 363 persen dibanding semester I 2025 sebesar Rp0,84 triliun.
Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro menilai transformasi bisnis mulai terlihat hasilnya. Menurut dia, pertumbuhan dicapai di tengah dinamika industri global.
“Kinerja perseroan pada semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi transformasi operasional dan bisnis yang dijalankan perseroan mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas di tengah dinamika industri global,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu, 29 Juli 2026.
Produksi dan Penjualan PT Timah Meningkat Tajam
Kinerja operasi PT Timah juga membaik signifikan sepanjang semester I 2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn.
Angka itu naik 75 persen dibanding tahun sebelumnya. Semester I 2025 tercatat 6.997 ton Sn.
Peningkatan ditopang optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi. Kenaikan terjadi pada kapal isap produksi, ponton isap produksi, dan tambang darat kemitraan.
Produksi logam timah mencapai 10.865 metrik ton Sn. Angka ini tumbuh 58 persen dibanding 6.870 metrik ton Sn pada semester I 2025.
Penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton. Kenaikannya mencapai 85 persen dibanding 5.933 metrik ton tahun lalu.
Perseroan juga mengoptimalkan pengelolaan persediaan logam timah. Langkah itu dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar.
Harga jual rata-rata mencapai 49.794 dolar AS per metrik ton. Tahun lalu, harga rata-rata masih 32.816 dolar AS per metrik ton.
Baca juga: PT Timah Terima Aset Rampasan Negara Rp7 Triliun, Disaksikan Prabowo
Pasar Ekspor Masih Jadi Penopang Utama
Penjualan PT Timah masih didominasi pasar ekspor. Kontribusinya mencapai 97 persen dari total penjualan.
Pasar domestik hanya menyumbang 3 persen. China menjadi tujuan terbesar dengan porsi 36 persen.
India menyerap 12 persen penjualan. Korea Selatan berkontribusi 11 persen.
Singapura menyumbang 6 persen. Belanda dan Italia masing-masing 5 persen.
Restu menegaskan disiplin biaya menjadi faktor penting pencapaian semester pertama. Optimalisasi operasi juga terus diperkuat.
“Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut,” ujarnya.
Kinerja semester pertama menunjukkan akselerasi bisnis yang kuat. PT Timah kini memasuki paruh kedua 2026 dengan capaian yang sudah melampaui target laba tahunan. (*)
Editor: Yulian Saputra


