Poin Penting
- Ekonom Syafruddin Karimi menilai pengganti Perry Warjiyo harus mengutamakan kredibilitas institusi di atas popularitas pribadi.
- Gubernur BI berikutnya dituntut berani menjaga independensi, menguasai isu ekonomi strategis, dan mampu berkomunikasi secara transparan.
- Penguatan kelembagaan dinilai menjadi warisan penting bagi kepemimpinan BI.
Jakarta – Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai Bank Indonesia (BI) membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kepercayaan publik dan memperkuat kredibilitas institusi setelah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI.
Menurutnya, sosok Gubernur BI berikutnya harus mampu membangun kepercayaan melalui konsistensi kebijakan serta menjaga mandat dan independensi bank sentral.
Syafruddin menyampaikan setidaknya diperlukan lima karakter bagi sosok pemimpin BI selanjutnya. Pertama, pemimpin yang menempatkan kredibilitas institusi di atas popularitas pribadi.
Menurutnya, dengan penduduk yang hampir mencapai 300 juta jiwa, setiap keputusan suku bunga, likuiditas, nilai tukar, dan sistem pembayaran menyentuh kehidupan rumah tangga, pelaku usaha, pekerja, serta pemerintah daerah. Oleh karena itu, Gubernur BI harus membangun kepercayaan melalui konsistensi keputusan, kualitas analisis, dan ketegasan menjaga mandat.
“Kepemimpinan yang kuat bukan kepemimpinan yang bergantung pada figur tunggal, melainkan kepemimpinan yang membuat seluruh sistem tetap bekerja ketika pejabat berganti,” ujar Syafruddin saat dihubungi Infobanknews, Rabu, 29 Juli 2026.
Baca juga: Komisi XI DPR Ingatkan Gubernur BI Pengganti Perry Wajib Jaga Independensi
Karakter kedua adalah memiliki keberanian institusional. Menurut Syafruddin, Gubernur BI harus mampu berkoordinasi dengan pemerintah tanpa kehilangan independensinya sebagai bank sentral.
Ia menilai Gubernur BI perlu mendukung pertumbuhan ekonomi ketika kondisi stabil, namun tetap berani menolak tekanan pelonggaran kebijakan jika berpotensi mengganggu stabilitas rupiah, inflasi, maupun arus modal.
“Kemampuan mengatakan “tidak” pada kebijakan yang berisiko bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan tanggung jawab terhadap kepentingan nasional,” imbuhnya.
Baca juga: KSSK Beberkan Nilai Plus Destry Damayanti usai Gantikan Perry Warjiyo di BI
Ketiga ialah penguasaan teknokratis yang luas dan relevan dengan perubahan ekonomi.
Menurut Syafruddin, Gubernur BI tidak cukup memahami teori moneter dan perbankan. Ia harus menguasai pasar valas, obligasi, stabilitas sistem keuangan, risiko fiskal, digitalisasi pembayaran, arus modal global, geopolitik energi, dan utang valas korporasi.
“Ia juga perlu memahami ketimpangan transmisi kebijakan antardaerah dan antarkelompok pendapatan. Indonesia bukan ekonomi kecil yang dapat dikelola dengan satu instrumen. Bank sentral memerlukan pemimpin yang mampu merancang bauran kebijakan dengan biaya ekonomi paling rendah,” tambahnya.
Baca juga: Bursa Gubernur BI Menghangat, Nama Burhanuddin Abdullah-Thomas Djiwandono Muncul
Karakter keempat adalah kemampuan komunikasi yang jujur, terukur, dan dapat diuji. Pasar membutuhkan kejelasan mengenai fungsi reaksi BI, sedangkan publik membutuhkan penjelasan yang mudah dipahami tentang dampak kebijakan terhadap harga, kredit, pekerjaan, dan tabungan.
“Gubernur BI tidak boleh hanya menyampaikan optimisme. Ia harus berani menjelaskan risiko, keterbatasan instrumen, dan alasan setiap keputusan. Ketika komunikasi konsisten dengan tindakan, ekspektasi inflasi lebih terkendali, spekulasi berkurang, dan premi risiko dapat menurun,” bebernya.
Baca juga: Diisukan Masuk Bursa Calon Gubernur BI, Purbaya Jawab Begini
Karakter terakhir adalah komitmen membangun kelembagaan Bank Indonesia.
Syafruddin menilai keberhasilan seorang Gubernur BI tidak hanya diukur dari stabilitas rupiah atau inflasi yang terkendali, tetapi juga dari kemampuannya memperkuat proses pengambilan keputusan, kualitas riset, mekanisme akuntabilitas, dan kaderisasi internal.
“Bagi negara dengan hampir 300 juta penduduk, ketahanan institusi jauh lebih penting daripada ketergantungan pada tokoh. Indonesia membutuhkan pemimpin bank sentral yang mampu mengubah kepercayaan pada pribadi menjadi kepercayaan pada Bank Indonesia sebagai lembaga,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


