Poin Penting
- Laba Bank Aladin turun 52,04 persen menjadi Rp38,38 miliar, tertekan kenaikan bagi hasil.
- Sementara DPK mampu tumbuh 61,36 persen dan CASA melonjak 115,62 persen, mendorong aset tumbuh 46,34 persen
- Adapun pembiayaan naik 8,71 persen, dengan NPF 0,43 persen dan CAR tetap kuat di 43,36 persen.
Jakarta – Bank Aladin Syariah membukukan laba bersih Rp38,38 miliar pada Juni 2026 (semester I 2026). Meski turun 52,04 persen year on year (yoy) dibandingkan Rp80,04 miliar pada Juni 2025, bank digital syariah ini tetap mencatatkan pertumbuhan bisnis yang kuat.
Hal itu, terutama terlihat dari sisi penghimpunan dana dan ekspansi aset. Lonjakan dana murah yang menembus 115,62 persen menjadi pencapaian paling menonjol sekaligus memperkuat fondasi pendanaan jangka panjang bank ini.
Penurunan laba Bank Aladin Syariah terjadi di tengah meningkatnya aktivitas bisnis pembiayaan. Berdasarkan laporan publikasi bank yang dipimpin Koko Tjatur Rachmadi sebagai presiden direktur ini, dikutip Rabu (29/7), pendapatan dari penyaluran dana naik 16,53 persen menjadi Rp442,54 miliar dari Rp379,76 miliar pada Juni 2025.
Baca juga: Tingkatkan Loyalitas Nasabah, Bank Aladin Syariah Perkuat Nilai Tambah
Tapi, distribusi bagi hasil kepada pemilik dana investasi meningkat jauh lebih tinggi, yakni 83,62 persen menjadi Rp379,90 miliar, sehingga menekan ruang keuntungan bank.
Kondisi itu membuat pendapatan setelah distribusi bagi hasil turun cukup dalam, yakni 63,76 persen menjadi Rp62,64 miliar dari Rp172,87 miliar. Penurunan pendapatan bersih ini menjadi faktor utama yang memengaruhi laba Bank Aladin Syariah pada semester pertama 2026.
Dari sisi core business, aktivitas intermediasi tetap menunjukkan pertumbuhan meski margin mengalami tekanan.
Di tengah penurunan pendapatan bersih, Bank Aladin Syariah berhasil menjaga efisiensi pada sejumlah pos biaya. Beban operasional lainnya turun signifikan 68,16 persen menjadi Rp29,56 miliar dibandingkan Rp92,83 miliar pada Juni tahun lalu.
Meski demikian, rasio BOPO meningkat dari 85,71 persen menjadi 95,33 persen, mencerminkan tekanan terhadap efisiensi operasional akibat penurunan pendapatan yang lebih besar dibandingkan penurunan biaya.
Tapi, kinerja fungsi intermediasi justru menjadi salah satu kekuatan utama Bank Aladin Syariah. Dana pihak ketiga (DPK) melesat 61,36 persen menjadi Rp9,97 triliun, jauh melampaui pertumbuhan industri perbankan nasional yang menurut Bank Indonesia (BI) mencapai 8,1 persen pada Juni 2026.
Pertumbuhan itu ditopang oleh kenaikan dana murah (CASA) sebesar 115,62 persen menjadi Rp1,94 triliun, sehingga rasio dana murah meningkat dari 14,58 persen menjadi 19,48 persen. Lonjakan tabungan yang mencapai 116,60 persen menjadi motor utama penguatan struktur pendanaan bank.
Di sisi pembiayaan, Bank Aladin Syariah menyalurkan pembiayaan Rp5,56 triliun atau tumbuh 8,71 persen secara tahunan. Meski rasio NPF gross meningkat menjadi 0,43 persen dan NPF Net menjadi 0,20 persen, kualitas pembiayaan bank ini dapat dikatakan tetap sangat terjaga karena masih jauh di bawah batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga mencerminkan asset quality yang tetap solid.
Ekspansi bisnis Bank Aladin Syariah juga tercermin dari pertumbuhan aset yang sangat impresif. Total aset bank ini melonjak 46,34 persen menjadi Rp15,14 triliun dari Rp10,35 triliun pada Juni 2025.
Di sisi permodalan, modal inti naik 2,55 persen menjadi Rp3,21 triliun, sementara rasio CAR berada di level 43,36 persen, meski turun dari 57,36 persen pada tahun sebelumnya. Posisi itu masih menunjukkan tingkat permodalan yang sangat kuat untuk menopang ekspansi usaha.
Baca juga: Bank Aladin Syariah Genjot Inovasi Digital untuk Perluas Ekosistem Layanan
Dari sisi rasio keuangan, profitabilitas memang mengalami tekanan. ROA turun dari 1,66 persen menjadi 0,43 persen dan ROE turun dari 2,56 persen menjadi 1,04 persen, yang menunjukkan kemampuan Bank Aladin Syariah dalam menghasilkan laba belum sekuat tahun sebelumnya.
Sementara, rasio FDR berada di level 55,76 persen, lebih rendah dari kisaran ideal LDR industri sebesar 78-92 persen, sehingga masih terdapat ruang yang cukup besar bagi bank ini untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan di masa mendatang.
Adapun rasio CIR naik dari 74,15 persen menjadi 82,18 persen, menandakan efisiensi biaya masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu terus diperbaiki demi memperkuat profitability. (*) Ari Nugroho


