Poin Penting
- DBS memperkirakan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 tumbuh 5,2–5,4 persen, didukung aktivitas ekonomi yang masih solid
- Pertumbuhan ekonomi 2026 berpotensi direvisi naik, sementara inflasi diproyeksikan tetap terkendali di kisaran 3,6 persen
- DBS menilai subsidi energi menjaga inflasi RI tetap rendah, meski risiko kenaikan harga pangan akibat El Niño masih perlu diwaspadai.
Jakarta – Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 berada di rentang 5,2 persen hingga 5,4 persen.
Menurutnya, proyeksi tersebut berdasarkan pemantauan sejumlah indikator ekonomi yang dilakukan secara berkala oleh model internal DBS.
“Mengenai pertumbuhan ekonomi, data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II akan diumumkan pada 5 Agustus. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tetap berada di atas 5 persen, tepatnya di kisaran 5,2 hingga 5,4 persen,” ujar Radhika dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.
Ia menjelaskan, model pemantauan ekonomi DBS sendiri menunjukkan aktivitas ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur pertumbuhan yang cukup solid.
Baca juga: Inflasi Medis Tinggi, Perusahaan Didorong Ubah Skema Benefit Kesehatan Karyawan
Kendati begitu, proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berpotensi mengalami revisi ke atas, meski saat ini DBS masih mempertahankan perkiraan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Inflasi RI Diperkirakan Tetap Terkendali
Selain pertumbuhan ekonomi, Radhika juga menyoroti perkembangan inflasi Indonesia. Ia menilai, karakteristik inflasi Indonesia berbeda dengan inflasi yang terjadi di Amerika Serikat (AS).
Menurut dia, salah satu faktor yang menjadikan tekanan inflasi Indonesia relatif terkendali adalah kebijakan subsidi energi yang masih dipertahankan pemerintah.
Lain halnya dengan sejumlah negara Asia yang melakukan pengurangan subsidi sehingga berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Namun di Indonesia, hal itu bukan faktor utama. Bahkan jika saya tidak salah mengingat, pemerintah pernah menyatakan bahwa selama harga minyak tidak melampaui USD100 per barel, mereka lebih memilih untuk tidak menaikkan harga BBM,” jelasnya.
Baca juga: OJK Ungkap Tantangan Asuransi Kesehatan: Inflasi Medis Masih Tinggi, Out of Pocket Tembus Rp181 T
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi dari sektor pangan. Fenomena El Niño yang berdampak terhadap produksi pangan diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas.
DBS memperkirakan inflasi Indonesia sepanjang 2026 berada di sekitar 3,6 persen. Menurut Radhika, tingkat inflasi tersebut masih dalam kategori terkendali dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia.
Sebagai perbandingan, inflasi Filipina saat ini berada di kisaran 6 persen hingga 7 persen, sementara beberapa negara lain mencatat tingkat inflasi sekitar 5 persen hingga 5,5 persen.
“Jadi dibandingkan negara-negara tersebut, inflasi Indonesia masih relatif rendah,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


