Poin Penting
- Inflasi medis RI 15,1 persen melampaui rata-rata global 14 persen, mendorong perusahaan mengubah strategi benefit kesehatan
- Perusahaan mulai beralih ke layanan kesehatan berbasis data dan pencegahan sesuai profil risiko karyawan
- Telemedicine dan AI dinilai mampu menekan biaya kesehatan serta meningkatkan efisiensi klaim.
Jakarta – Tingkat inflasi medis Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Pasifik, tembus 15,1 persen, di atas rata-rata global yang hanya 14 persen. Lonjakan itu mendorong perusahaan mengubah strategi pengelolaan benefit kesehatan karyawan.
Perubahan dinilai perlu dilakukan untuk menjaga produktivitas tenaga kerja sekaligus mengendalikan biaya kesehatan. Selama ini banyak perusahaan yang mengandalkan skema asuransi dan reimbursement dalam mengelola benefit kesehatan karyawan.
Tren itu mulai bergeser menjadi layanan yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada upaya pencegahan penyakit.
Penyedia layanan ekosistem kesehatan digital, Halodoc for Business dalam Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026, mengungkap, di tengah tren kenaikan inflasi medis, perusahaan-perusahaan Indonesia menghadapi tantangan yang semakin nyata, yakni bagaimana menjaga produktivitas tenaga kerja tanpa membiarkan biaya kesehatan tidak terkendali.
Baca juga: Inflasi Medis Capai 16,9 Persen, Sequis Life Perluas Manfaat Asuransi Kesehatan
Menurut Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, jawaban atas tantangan ini tidak dimulai dari pemangkasan anggaran, melainkan dari pemahaman yang lebih dalam.
Fibrianyi menegaskan, sumber daya manusia (SDM) adalah aset paling berharga bagi suatu perusahaan. Saat ini, banyak perusahaan Indonesia masih mengelola kesehatan karyawan secara reaktif, tanpa data yang memadai untuk memahami di mana risiko sesungguhnya berada.
“Indonesia Health Benefit Insights Report 2026 hadir untuk mengubah itu. Laporan ini bukan hanya tentang angka kesehatan, ini adalah cermin untuk melihat profil kesehatan tenaga kerjanya secara nyata, dan dasar untuk merancang strategi yang benar-benar tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan,” ujarnya di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Laporan ini juga memaparkan bahwa kendala terbesar terkait kesehatan karyawan di Indonesia bukan soal kesadaran, melainkan soal akses.
Terlalu banyak pekerja yang menunda pengobatan bukan karena tidak mau, tetapi karena sistem yang ada membuat prosesnya lebih sulit dari seharusnya.
Pada akhirnya, penundaan itu menyebabkan keluhan ringan menjadi kondisi yang lebih, sehingga jauh lebih mahal untuk ditangani.
Di kesempatan sama, Chief of Medical Halodoc, Irwan Heriyanto mengungkapkan, berdasarkan laporan tersebut, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih mendominasi penyakit yang diderita kelompok pekerja muda. Sedangkan gangguan muskuloskeletal menjadi masalah kesehatan utama pada kelompok usia produktif.
Selanjutnya untuk kelompok usia 50 tahun ke atas, penyakit kardiovaskular dan kanker menjadi penyumbang biaya kesehatan terbesar.
Temuan yang disajikan dalam laporan ini menegaskan bahwa strategi benefit kesehatan tidak lagi dapat disusun dengan pendekatan yang seragam.
Perusahaan didorong untuk mengarahkan program kesehatan berdasarkan profil risiko tenaga kerja. Mulai dari edukasi kesehatan, skrining, hingga layanan promotif dan preventif yang lebih tepat sasaran.
Di luar itu, digitalisasi layanan kesehatan mulai menjadi bagian dari strategi korporasi dalam mengendalikan biaya medis. Berdasarkan data Halodoc, layanan telemedicine mampu menangani 24 persen kasus kesehatan dengan porsi biaya hanya 8 persen dari total pengeluaran kesehatan.
Sekitar 95 persen kasus kesehatan diklaim dapat diselesaikan lewat telemedicine, tanpa perlu kunjungan lanjutan ke fasilitas kesehatan dalam waktu 30 hari.
Sementara, pemanfaatan layanan Digital Cashless Outpatient (DCO) pada pasien penyakit kronis disebut bisa menghemat biaya hingga 66,4 persen dalam periode 90 hari.
Temuan itu mencerminkan bahwa layanan kesehatan digital bukan lagi sekadar alternatif konsultasi, tapi bisa mendorong efisiensi biaya kesehatan perusahaan.
Adapun untuk perusahaan, Halodoc sudah mengembangkan platorm Halodoc for Business. Layanan ini mengintegrasikan layanan konsultasi medis, telemedicine, pengelolaan administrasi benefit melalui third party administrator (TPA), hingga analisis data kesehatan karyawan dalam satu ekosistem.
Halodoc juga mengoptimalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses verifikasi kepesertaan, validasi klaim, hingga pemantauan kondisi pasien dan tagihan rumah sakit. Adopsi teknologi ini disebut bisa mendorong efisiensi biaya klaim hingga 18 persen.
Baca juga: OJK Ungkap Tantangan Asuransi Kesehatan: Inflasi Medis Masih Tinggi, Out of Pocket Tembus Rp181 T
Terbaru, sebagai pelengkap ekosistem layanannya, Halodoc juga menghadirkan layanan pendampingan pasien di rumah sakit melalui HaloAssist. Layaan ini akan membantu memudahkan proses administrasi dan koordinasi selama pasien menjalani perawatan.
Sebagai informasi, hingga saat ini Halodoc for Business sudah melayani lebih dari 1,5 juta peserta aktif, dan bekerja sama dengan lebih dari 3.000 perusahaan.
Ada lebih dari 30 perusahaan asuransi yang bermitra, dan didukung jaringan 4.700 fasilitas layanan kesehatan di seluruh Indonesia. (*) Ari Astriawan


