Poin Penting
- BTN memastikan tidak merevisi RBB 2026, target laba Rp4,2 triliun dan kredit 8–10 persen.
- Pada semester I 2026, laba bersih BTN Rp2,4 triliun atau naik 40,8 persen yoy dan setara 57 persen target tahunan.
- Realisasi laba tersebut ditopang kinerja kredit yang tumbuh 11,2 persen yoy, yang didorong dana SAL, namun likuiditas tetap perlu dijaga.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) memastikan tidak revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026, meski industri perbankan tengah menghadapi tantangan likuiditas.
Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, membeberkan target bisnis perseroan sendiri telah disepakati bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Karena itu, perubahan hanya akan dilakukan pada indikator kinerja internal (KPI), bukan semata pada target bisnis yang telah ditetapkan.
“RBB kita tidak akan ada revisi. Sudah diputuskan bersama Danantara. Jadi, kita hanya ubah KPI internal saja. Kalau ada angka keluar tidak ada berubah,” kata Nixon dalam paparan kinerja semester I 2026, Rabu, 16 Juli 2026.
Dalam RBB 2026, kata Nixon, emiten perbankan pelat merah ini menargetkan laba bersih sekitar Rp4,2 triliun.
Hingga semester I 2026, BBTN telah mencatat laba bersih konsolidasi Rp2,4 triliun, atau sekitar 57 persen dari target setahun penuh.
Baca juga: Laba BTN Tumbuh 40,8 Persen Jadi Rp2,4 Triliun di Semester I 2026
Selain itu, BTN juga tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit sebesar 8-10 persen sepanjang 2026. Hingga akhir Juni 2026, kredit dan pembiayaan BTN justru tumbuh sebesar 11,2 persen secara tahunan.
Nixon menjelaskan, percepatan pertumbuhan kredit pada semester I 2026 turut dipengaruhi penempatan dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang meningkatkan likuiditas perbankan.
Sebagai perbandingan, pada Juni 2025 pertumbuhan kredit BTN masih berada di kisaran 6 persen.
“Tahun 2026 sampai Juni 2026 sebesar 11,2 persen. Jadi lompat hampir 2,5 kali lipat dari sisi growth rate. Itu yang terjadi sebenarnya,” bebernya.
Meski demikian, dirinya mengingatkan bahwa tantangan likuiditas belum sepenuhnya mereda. Usai dana tersebut disalurkan menjadi kredit, bank memerlukan waktu untuk memulihkan kembali posisi likuiditasnya.
Nixon menilai, koordinasi antara pemerintah serta industri perbankan diperlukan agar penempatan maupun penarikan dana pemerintah berlangsung pada waktu yang tepat sehingga tidak memicu tekanan likuiditas di sistem perbankan.
Baca juga: Kolaborasi BTN dan Bangor Group Perkuat Layanan Digital di Ekosistem Lifestyle
“Ini perlu koordinasi mengenai waktu. Terpenting harus dijaga bareng-bareng supaya tidak terjadi kelangkaan likuiditas,” tandasnya.
Laba BTN Semester I 2026
BTN sendiri mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,4 triliun sepanjang semester I 2026. Perolehan tersebut tumbuh 40,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp1,7 triliun.
Berdasarkan laporan perseroan, pertumbuhan laba bersih emiten perbankan pelat merah ini didorong oleh lonjakan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar 11,2 persen secara tahunan hingga akhir Juni 2026.
Kenaikan tersebut, utamanya berasal dari pertumbuhan kredit perumahan yang masih menjadi bisnis inti perseroan.
Penyaluran kredit BTN juga ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp433 triliun, naik 6,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (*)
Editor: Galih Pratama


