Poin Penting
- BTN meraih laba bersih Rp2,4 triliun pada semester I 2026, naik 40,8 persen yoy.
- Kredit dan pembiayaan tumbuh 11,2 persen menjadi Rp418,11 triliun, ditopang KPR subsidi.
- Kualitas aset membaik, dengan NPL gross turun ke 2,99 persen dan LAR ke 18,6 persen.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,4 triliun sepanjang semester I 2026.
Perolehan laba tersebut tumbuh 40,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp1,7 triliun.
Berdasarkan laporan perseroan, pertumbuhan laba bersih emiten perbankan pelat merah ini didorong oleh lonjakan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar 11,2 persen secara tahunan hingga akhir Juni 2026.
Kenaikan tersebut, utamanya berasal dari pertumbuhan kredit perumahan yang masih menjadi bisnis inti perseroan.
Penyaluran kredit BBTN juga ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp433 triliun, naik 6,6 persendibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: BTN Bukukan Laba Rp1,85 Triliun di Mei 2026, Tumbuh 54,37 Persen
Dari sisi profitabilitas, BTN mencatatkan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) sebesar 3,5 persen pada Juni 2026. Angka ini turun 85 basis poin dibandingkan posisi Juni 2025 yang mencapai 4,4 persen.
Kualitas aset BTN juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) grossturun menjadi 2,99 persen pada Juni 2026 dari 3,3 persen pada Juni 2025.
Perbaikan ini juga terjadi pada rasio loan at risk (LAR), dari 20,2 persen pada Juni 2025 menjadi 18,6 persen pada Juni 2026.
Perbaikan kualitas aset ini mencerminkan pengelolaan risiko kredit yang lebih baik di tengah pertumbuhan penyaluran pembiayaan, sekaligus menopang kinerja BTN pada paruh pertama 2026.
Baca juga: Bank BSN Lego Portofolio Pembiayaan Rp522,08 Miliar, Optimalkan Aset Pasif
Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu mengatakan, kinerja positif tersebut menunjukkan strategi transformasi BTN yang selaras dengan arah transformasi Danantara Indonesia, telah berjalan sesuai target.
Menurut Nixon, BTN tidak hanya terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin pembiayaan perumahan nasional, tetapi juga membangun ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi guna mendukung program prioritas pemerintah, termasuk Program 3 Juta Rumah, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat.
“Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten kami lakukan. Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja per 30 Juni 2026 di Jakarta, Kamis (16/7).
Nixon menjelaskan transformasi BTN yang dibangun secara bertahap selama lebih dari satu dekade, telah dimulai dari penguatan posisi sebagai housing specialist, dilanjutkan dengan transformasi operasional, hingga kini memasuki fase beyond mortgage untuk membangun ekosistem layanan keuangan yang lebih terintegrasi bagi keluarga Indonesia.
Sejalan dengan arah tersebut, BTN juga terus memperkuat fondasi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan melalui digitalisasi proses, optimalisasi neraca, penguatan pengendalian risiko, serta implementasi AI Governance guna memastikan pertumbuhan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
Realisasi Kredit BTN
Hingga semester I 2026, BTN mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun, meningkat 11,2 persen yoy dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan di sektor kredit perumahan sebesar 4,8 persen yoy dari Rp317,77 triliun menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026.
Kemudian, kredit non-perumahan juga mengalami kenaikan sebesar 46,1 persen yoy dari Rp58,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp85,22 triliun di Juni 2026.
Adapun kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi mesin pendorong kredit perumahan dengan kenaikan sebesar 8,1 persen yoy dari Rp182,17 triliun menjadi Rp196,96 triliun per Juni 2026.
Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN juga tercatat mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026, sejak dirilis pada akhir Oktober 2025.
Untuk peningkatan kredit non-perumahan, lanjut Nixon, mayoritas didukung perluasan penetrasi pada berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan, lembaga keuangan, hingga ritel.
BTN juga menggandeng perusahaan multifinance untuk memperluas pembiayaan kendaraan bermotor sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis beyond mortgage sekaligus meningkatkan cross selling kepada nasabah eksisting. (*)
Editor: Galih Pratama


