Poin Penting
- Harga emas dunia bertahan di level tertinggi dalam dua pekan setelah data tenaga kerja AS melemah.
- Pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Penguatan dolar AS masih menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga emas.
Jakarta – Harga emas dunia bertahan stabil di dekat level tertinggi dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Senin (6/7). Pergerakan ini didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan sehingga memicu penurunan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan pukul 02.52 waktu setempat, harga emas spot tercatat stabil di level 4.174,66 dolar AS per ons, setelah sebelumnya menyentuh posisi tertinggi sejak 22 Juni.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,5 persen menjadi 4.186,70 dolar AS per ons.
Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini (6/7): Antam, Galeri24 hingga UBS Stabil, Cek Detailnya
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menyatakan bahwa stabilnya harga emas dunia dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.
“Emas kembali stabil seiring pasar yang menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Meskipun hal ini memberikan sedikit kelegaan terhadap imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS masih menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga emas,” ujar Waterer, dikutip Reuters, Senin, 6 Juli 2026.
Data Ketenagakerjaan AS Jadi Penggerak Pasar
Di sisi lain, indeks dolar AS naik sekitar 0,1 persen, sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Diketahui, sepanjang pekan 2025, harga emas menguat lebih dari 2 persen, sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama empat pekan berturut-turut.
Penguatan tersebut dipicu oleh data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja sehingga meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Baca juga: EMAS Mulai Kirim 44 Kg Dore ke Antam, Siap Masuk Tahap Komersial
Data yang dirilis pada Kamis lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di AS melambat signifikan pada Juni. Selain itu, angka penggajian untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah, sehingga memperkuat indikasi bahwa pasar tenaga kerja mulai mendingin.
Merespons data tersebut, pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Investor Menanti Risalah Rapat The Fed
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada September kini berada di kisaran 55 persen, turun dari lebih dari 60 persen sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Secara umum, prospek suku bunga yang lebih rendah umumnya menjadi sentimen positif bagi harga emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Baca juga: Awali Pekan, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.993 per Dolar AS
Fokus investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat kebijakan moneter The Fed periode 16–17 Juni yang dijadwalkan dirilis pada Rabu pekan ini.
Dokumen tersebut diperkirakan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Proyeksi Harga Emas
Sementara itu, J.P. Morgan memperkirakan permintaan emas dari sejumlah sektor utama tidak akan sekuat proyeksi sebelumnya. Kondisi tersebut diperkirakan membatasi kenaikan harga emas ke level 4.300 dolar AS per ons pada kuartal III 2026 dan 4.500 dolar AS per ons pada kuartal IV 2026.
Adapun logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak spot turun 0,6 persen menjadi 62,03 dolar AS per ons setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 23 Juni. Harga platinum melemah 0,1 persen menjadi 1.636,60 dolar AS per ons, sedangkan paladium turun 0,2 persen ke level 1.271,75 dolar AS per ons. (*)
Editor: Yulian Saputra


