Poin Penting
- Investor asing mencatat net sell Rp3,37 triliun sepanjang 20–24 Juli 2026, dengan total capital outflow sejak awal tahun mencapai Rp79,09 triliun.
- IHSG tetap menguat 0,34 persen ke level 6.196,43 berkat dominasi investor domestik dan rotasi sektor properti serta energi.
- IPOT merekomendasikan EMAS, ITMG, TAPG, dan ETF XIHD untuk dicermati pada perdagangan 27–31 Juli 2026.
Jakarta – Aksi net foreign sell masih membayangi pasar saham domestik. Sepanjang perdagangan 20–24 Juli 2026, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp3,37 triliun sehingga akumulasi arus keluar modal (capital outflow) sejak awal tahun mencapai Rp79,09 triliun.
Kendati demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu menguat tipis 0,34 persen ke level 6.196,43 berkat rotasi penguatan pada sektor properti dan energi yang ditopang dominasi investor domestik.
Berdasarkan data PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), investor domestik menyumbang sekitar 69 persen dari total nilai transaksi harian. Kondisi tersebut dinilai mampu meredam dampak tekanan jual investor asing, terlebih valuasi pasar saham Indonesia masih tergolong menarik dengan price to earnings ratio (PER) sebesar 12,64 kali sehingga mendorong investor melakukan akumulasi secara selektif.
Equity Analyst IPOT, Brigita Kinari mengatakan, kombinasi rotasi sektoral dan kuatnya likuiditas domestik menjadi penopang utama stabilitas IHSG di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Kombinasi rotasi sektoral dan kuatnya likuiditas domestik menjaga IHSG tetap stabil di tengah tekanan eksternal, sementara valuasi pasar yang masih relatif atraktif pada PER 12,64 kali menjadi salah satu faktor yang menopang minat beli secara selektif,” ujarnya, Senin, 27 Juli 2026.
Baca juga: Syailendra Research: IHSG Bertahan Positif, Outflow Asing Masih Membayangi
Menurut Brigita, pergerakan pasar saham dalam beberapa hari ke depan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama menjelang rilis pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat kuartal II-2026 dan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 30 Juli.
Selain itu, pasar juga masih mencermati dampak kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, perkembangan konflik geopolitik yang memengaruhi harga minyak dunia, hingga aksi ambil untung pada saham-saham teknologi di Wall Street menjelang musim laporan keuangan.
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan dinilai memberikan sinyal positif terhadap prospek sektor keuangan karena mampu menjaga pertumbuhan kredit tetap solid. Di sisi lain, stabilisasi nilai tukar rupiah melalui instrumen hedging juga diharapkan dapat menekan kenaikan cost of funds perbankan.
“Kondisi tersebut secara fundamental masih menjadi sentimen positif bagi sektor keuangan, meski ruang penguatannya berpotensi terbatas selama arus keluar dana asing dari saham-saham big caps belum mereda,” ungkapnya.
Harga Minyak dan Likuiditas Jadi Risiko
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah global masih menjadi risiko terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan meningkatnya beban subsidi energi.
Sementara itu, perlambatan pertumbuhan uang beredar (M2) menunjukkan likuiditas domestik masih relatif ketat, meskipun penyesuaian anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi sinyal positif bagi disiplin fiskal pemerintah.
Secara teknikal, IPOT memperkirakan IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan area support di kisaran 6.111–6.150. Selama indeks mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan masih terbuka.
“Apabila IHSG mampu mengakhiri fase konsolidasi dan menembus resisten 6.340 maka hal tersebut akan mengonfirmasi kelanjutan penguatan menuju target 6.470 – 6.700 sekaligus menutup gap pada area atas,” ujar Brigita.
Baca juga: Anggaran MBG Bakal Dipangkas jadi Rp229 Triliun, Ini Update dari Purbaya
Rekomendasi Saham
Merespons dinamika pasar saat ini, analis IPOT merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati pada perdagangan 27–31 Juli 2026, yakni PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), serta reksa dana saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).
EMAS – Buy
Secara teknikal, EMAS menunjukkan struktur pergerakan yang solid setelah mampu bertahan di atas EMA5 hingga EMA20 dengan dukungan volume perdagangan yang berada di atas rata-rata 20 hari. Dari sisi trade flow, saham ini juga memperlihatkan adanya akumulasi smart money di tengah volatilitas pasar.
- Entry: Rp5.975–Rp6.100
- Target Price: Rp6.725
- Stop Loss: Rp5.600
ITMG – Buy
ITMG mengonfirmasi tren bullish yang masih kuat. Hal itu tecermin dari indikator ADX yang menunjukkan posisi +DI berada di atas -DI, didukung lonjakan volume perdagangan yang melampaui rata-rata 20 hari.
- Entry: Rp24.500
- Target Price: Rp26.300
- Stop Loss: Rp23.675
TAPG – Buy
TAPG dinilai masih memiliki struktur tren yang positif setelah bertahan di atas EMA5 hingga EMA50. Pergerakan saham ini juga diperkuat aksi akumulasi smart money yang berlangsung secara konsisten selama satu bulan terakhir.
- Entry: Rp1.660–Rp1.700
- Target Price: Rp1.880
- Stop Loss: Rp1.550
XIHD – Buy
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Produk ini menawarkan eksposur pada 20 saham dengan dividend yield tinggi dan fundamental yang relatif solid. Dengan porsi sektor perbankan sekitar 45,6 persen, XIHD dinilai berpotensi menjadi alternatif investasi di tengah pasar yang masih berfluktuasi karena menawarkan peluang pendapatan dividen sekaligus potensi capital gain. (*) Ayu Utami


