Poin Penting
- Fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, tetapi persepsi risiko investor meningkat.
- Investor asing masih masuk ke Indonesia, tetapi lebih memilih instrumen berpendapatan tetap.
- Kepastian kebijakan, kualitas pertumbuhan, fiskal, dan tata kelola menjadi perhatian pasar.
Jakarta – Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat meski investor asing melepas saham dan nilai tukar rupiah tertekan hingga 6,7 persen sepanjang 2026.
Chief Economist PT Permata Bank, Josua Pardede, membeberkan persoalan utama Indonesia bukan soal krisis fundamental, melainkan melonjaknya persepsi risiko terhadap arah dan kualitas kebijakan ekonomi pemerintah.
Menurutnya, ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen, sedangkan cadangan devisa pada akhir Juli mencapai 145,3 miliar dolar AS atau setara sekitar 5,5 bulan impor.
“Secara fundamental, Indonesia memang belum dapat dikatakan lemah. Ekonomi masih tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, inflasi Juli hanya 2,88 persen, dan cadangan devisa pada akhir Juli masih 145,3 miliar dolar AS atau sekitar 5,5 bulan impor, ujar Josua, di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.
Baca juga: IHSG Terkoreksi, BEI Nilai Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat
Namun, kata dia, pasar keuangan tak hanya menilai kondisi ekonomi saat ini. Investor juga mempertimbangkan prospek ekonomi dan risiko kebijakan dalam 6 hingga 12 bulan ke depan.
Di titik inilah, kata Josua, mulai terlihat perbedaan antara fundamental ekonomi yang masih relatif kuat dan persepsi risiko investor terhadap Indonesia.
Investor Asing Masih Masuk, tapi Pilih Instrumen Berpendapatan Tetap
Josua pun meluruskan anggapan bahwa investor asing sepenuhnya meninggalkan aset Indonesia. Berdasarkan data pihaknya, hingga awal Agustus 2026, arus modal asing secara keseluruhan masih mencatatkan inflow sekitar 5,90 miliar dolar AS.
Namun, komposisi arus modal tersebut menjadi perhatian. Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menerima arus masuk sekitar 9,41 miliar dolar AS dan Surat Berharga Negara (SBN) sekitar 0,61 miliar dolar AS. Sebaliknya, pasar saham mencatat arus keluar sekitar 4,12 miliar dolar AS.
Artinya, investor asing masih menempatkan dana di Indonesia, tetapi cenderung memilih instrumen berpendapatan tetap dengan imbal hasil tinggi dibandingkan mengambil risiko melalui kepemilikan saham.
“Jadi, uang asing masih masuk, tetapi lebih memilih instrumen berpendapatan tetap dengan imbal hasil tinggi daripada mengambil risiko kepemilikan perusahaan Indonesia,” jelasnya.
Baca juga: Likuiditas Perbankan Mengetat, Ekonom Ungkap Dampaknya ke Suku Bunga Kredit
Bahkan, lanjut Josua, tekanan jual saham juga tidak terjadi setiap bulan. Pada Juli 2026, investor asing justru mencatat pembelian bersih sekitar Rp1,62 triliun setelah pada Juni terjadi penjualan bersih Rp19,63 triliun.
Meski demikian, rupiah masih berada di sekitar Rp17.890 per dolar AS pada 7 Agustus 2026 atau melemah 6,7 persen sejak awal tahun.
Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan persoalan Indonesia bukan semata-mata kekurangan arus modal, melainkan kualitas dan ketahanan arus modal yang masuk.


