Poin Penting
- BEI menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski IHSG mengalami koreksi sepanjang 2026.
- Rupiah melemah 7,3 persen YTD, tetapi cadangan devisa mencapai 145,59 miliar dolar AS per Juni 2026.
- Aktivitas perdagangan dan jumlah investor pasar modal tetap tumbuh di tengah volatilitas IHSG.
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan (YTD).
Koreksi pasar dinilai lebih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik dibanding pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Research Division BEI, Fikrian Naufal H, mengatakan pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik, risiko inflasi, arah suku bunga global, hingga reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dalam paparannya, ia menjelaskan harga minyak mentah global tercatat meningkat 21 persen secara tahunan (YoY), sementara inflasi Amerika Serikat (AS) berada di level 3,7 persen YoY dan core Personal Consumption Expenditures (PCE) sebesar 3,3 persen YoY.
Kondisi tersebut masih mendukung ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama oleh The Federal Reserve.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, IHSG Diperkirakan Masih Bergerak di Level 6.000-6.250
Di dalam negeri, pasar juga menghadapi sejumlah sentimen, antara lain risiko fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, arah kebijakan Bank Indonesia (BI), perkembangan indeks MSCI, hingga rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis.
Hingga Juli 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 7,3 persen YTD, sementara BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada Mei hingga Juni 2026 dengan total kenaikan 100 basis poin menjadi 5,75 persen.
“Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Jika dibandingkan dengan periode krisis seperti 1998, posisi suku bunga saat ini masih jauh lebih terkendali,” ujar Fikrian dalam Media Connect yang diselenggarakan PT Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
“Tantangan memang ada, terutama dari tekanan global dan domestik, tetapi indikator makro Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” sambungnya.
Fundamental Ekonomi Masih Terjaga
Ketahanan ekonomi tersebut tecermin dari sejumlah indikator. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di zona positif, inflasi tetap terkendali, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) berada di bawah ambang batas 5 persen, dan cadangan devisa mencapai 145,59 miliar dolar AS per Juni 2026.
Posisi suku bunga juga jauh lebih rendah dibandingkan saat krisis 1998, ketika policy rate sempat menyentuh 60 persen. Pada Juli 2026, suku bunga berada di level 5,75 persen.
Baca juga: IHSG Terancam ke 5.600? Begini Proyeksi Analis hingga Akhir Pekan
Fikrian menyebut perjalanan IHSG sepanjang tahun ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134,80 pada 20 Januari 2026, IHSG terkoreksi hingga 6.236,13 pada 31 Juli 2026.
Koreksi tersebut dipengaruhi berbagai sentimen global dan domestik, termasuk isu MSCI, pelemahan rupiah, kenaikan BI Rate, dan perkembangan geopolitik.
“Setelah sempat mencetak all-time high pada Januari, IHSG memang mengalami tekanan akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Namun, kondisi saat ini juga membuat valuasi pasar menjadi lebih terdiskon. Ini yang perlu dicermati investor, terutama ketika fundamental ekonomi masih relatif solid,” imbuh Fikrian.
Aktivitas Perdagangan dan Investor Meningkat
Selain itu, di tengah volatilitas pasar, aktivitas perdagangan di BEI tetap menunjukkan pertumbuhan. Hingga Juli 2026, nilai transaksi perdagangan meningkat 24,6 persen YTD, frekuensi transaksi naik 41,9 persen YTD, dan volume transaksi bertambah 30,3 persen YTD.
Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Per Juli 2026, total investor mencapai 30,06 juta, meningkat signifikan dibandingkan 3,88 juta pada 2020.
Baca juga: Awal 2026, Jumlah Investor Pasar Modal RI Melonjak Signifikan
Sementara itu, jumlah investor saham melalui C-BEST meningkat dari 1,69 juta menjadi 10,03 juta pada periode yang sama. Peningkatan juga terlihat pada jumlah investor aktif, baik secara tahunan, bulanan, mingguan, maupun harian. (*) Ayu Utami


