Poin Penting
- BTN mendorong pengembangan hunian vertikal di perkotaan karena keterbatasan lahan dan mahalnya harga tanah, sekaligus menjaga ruang terbuka hijau
- Hunian dekat transportasi publik menjadi fokus BTN, terutama di sekitar stasiun, LRT, dan MRT Jabodetabek yang dinilai sesuai dengan preferensi generasi muda
- Hunian Manggarai dikembangkan 3.784 unit di lahan 2,2 hektare, terdiri dari delapan tower 24 lantai dan ditargetkan rampung dalam sekitar 18 bulan.
Jakarta – Kebutuhan akan hunian vertikal di kawasan perkotaan diperkirakan semakin dibutuhkan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Pasalnya, keterbatasan lahan dan menyempitnya ruang terbuka hijau menjadi alasannya.
Kondisi tersebut telah diperhitungkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN. Bank pelat merah ini pun mengarahkan konsep hunian vertikal di kawasan perkotaan.
Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu mengatakan, pengembangan hunian di masa depan tak bisa lagi mengandalkan rumah tapak atau landed house secara masif. Selain keterbatasan lahan, harga tanah di kawasan perkotaan juga semakin mahal.
“Pasti model kayak gini lah. Karena satu, lahan enggak ada lagi. Kedua, kita juga harus aware dengan lingkungan hidup, mesti ada daerah hijau. Jadi, ini kita mesti selamatkan karena harus ada resapan air dan sebagainya,” ujar Nixon, saat groundbreaking hunian vertikal di kawasan Manggarai, beberapa waktu lalu,.
Ia bilang, keberadaan ruang terbuka hijau sendiri penting untuk menjaga fungsi ekologis perkotaan. Sebab, area hijau dibutuhkan sebagai media resapan air, sekaligus membantu mengurangi dampak panas di kawasan perkotaan.
Baca juga: BTN Siapkan KPR 40 Tahun Bunga Flat 6 Persen untuk Hunian Manggarai
“Mesti bantu serap air tanah buat nahan panas bumi, dan sebagainya,” jelasnya.
Karena itu, pihaknya menilai bahwa konsep pembangunan ke arah vertikal menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat sekaligus menjaga ketersediaan ruang terbuka di kota besar.
“Jadi nggak mungkin horizontal, landed house, itu sudah sulit dan sudah terlalu mahal,” tegasnya.
Bidik Hunian Dekat Transportasi Publik
Lebih lanjut, Nixon mengatakan tren hunian vertikal juga akan semakin berkembang seiring dengan perubahan preferensi masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut dia, anak muda saat ini cenderung mempertimbangkan akses transportasi publik dan kedekatan dengan pusat aktivitas ketika memilih tempat tinggal.
“Anak muda sekarang itu lebih suka hunian di tengah kota, sarana transportasi publik yang dekat, ini penting banget,” bebernya.
Atas dasar itu, BTN membuka peluang mengembangkan hunian vertikal di sekitar simpul transportasi publik, termasuk kawasan stasiun di Jabodetabek.
Baca juga: KAI Groundbreaking Hunian Manggarai, 3.784 Unit Rumah untuk MBR
Nixon mengatakan masih terdapat sejumlah area di sekitar stasiun yang dapat ditata dan dikembangkan. BTN juga berencana menjajaki kawasan di sekitar jalur LRT dan MRT.
“Ini kan masih ada lagi di stasiun-stasiun di kota besar. Di Jabodetabek ini masih banyak. Kita akan rapikan daerah-daerah di stasiun-stasiun yang masih banyak pohon-pohon,” tuturnya.
“Selanjutnya nanti kita akan ngobrol di daerah LRT, MRT, dan sekitarnya,” sambungnya.
Hunian Manggarai Terdiri 3.784 Unit
Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo menilai pembangunan Hunian Manggarai menjadi langkah konkret dalam menghadirkan hunian layak dan terjangkau di pusat kota. Ia menekankan pentingnya memastikan hunian tersebut tepat sasaran dan tidak dikuasai untuk kepentingan spekulasi.
“Kita harus adil, satu pelanggan, satu peminat, satu apartemen,” kata Hashim.
Hashim berharap konsep serupa dapat dikembangkan di aset-aset KAI lainnya sehingga semakin banyak masyarakat memperoleh hunian terjangkau yang terintegrasi dengan transportasi publik.
Sementara itu, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, Hunian Manggarai dikembangkan di atas lahan sekitar 2,2 hektare dan direncanakan terdiri atas delapan tower setinggi 24 lantai.
Sebanyak 1.276 unit akan dibangun di Blok G dalam tiga tower, sementara Blok F akan memiliki lima tower dengan total 2.508 unit.
Keseluruhan proyek juga akan dilengkapi 150 unit retail pendukung, dengan pilihan hunian mulai dari studio tipe 28 hingga tipe 52 dengan tiga kamar tidur. Pembangunan keseluruhan proyek ditargetkan berlangsung sekitar 18 bulan. (*)
Editor: Galih Pratama


