Poin Penting
- TRIPA menilai dampak gempa NTT terhadap klaim asuransi belum sebesar bencana Sumatera-Aceh 2025, karena aset terdampak di NTT relatif lebih terbatas.
- Bencana di Sumatera-Aceh memicu potensi klaim lebih besar karena menyasar aset perkebunan sawit, pabrik, alat berat, hingga kawasan industri dan pertambangan
- Menghadapi potensi lonjakan klaim, TRIPA memperkuat pendapatan dan efisiensi biaya untuk menjaga kemampuan keuangan perusahaan.
Jakarta – PT Asuransi Tri Pakarta (Tripa) mengungkapkan dampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap klaim asuransi perseroan tak sebesar bencana yang terjadi di Sumatera-Aceh pada 2025 lalu.
Direktur Utama Tripa, G.C. Koen Yulianto, mengatakan terdapat sejumlah aset nasabah yang terdampak gempa NTT, namun jumlah kerugian tersebut belum dihitung secara keseluruhan.
“Di gempa NTT tentu berdampak, tapi kelihatannya karena tidak semasif waktu di Sumatera-Aceh tersebut, ujar Koen kepada Infobanknews, dikutip Senin 24 Agustus 2026.
Menurutnya, perbedaan dampak klaim tersebut salah satunya dipengaruhi karakteristik wilayah yang terdampak. Di Sumatera misalnya, bencana banjir dan gempa terjadi di kawasan yang memiliki banyak aktivitas perkebunan dan industri, termasuk perkebunan kelapa sawit serta pertambangan.
“Di Sumatera dan Aceh banyak perusahaan sawit dan alat beratnya banyak, tapi kalau di NTT mungkin kalau pun ada hanya gedung-gedung. Jadi tidak terlalu banyak, tapi belum dihitung, “bebernya.
Banjir Sumatera Picu Kerusakan di Perkebunan Sawit
Koen menjelaskan, dampak bencana di Sumatera memang lebih kompleks lantaran tak hanya mengenai properti, melainkan juga berbagai aset yang berkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan.
Baca juga: Begini Strategi Tripa Perkuat Transformasi Digital
Diketahui, dalam industri kelapa sawit, aset yang diasuransikan bisa mencakup tanaman, pabrik pengolahan, alat berat hingga kendaraan operasional. Ketika bencana banjir dan gempa terjadi bersamaan, kerusakan pun bisa meluas ke berbagai aset tersebut.
Ia bilang, pohon sawit yang tumbang akibat bencana bisa menjadi bagian dari risiko yang ditanggung asuransi sesuai dengan ketentuan polis. Kerusakan juga dapat terjadi pada pabrik dan alat berat yang digunakan untuk mendukung kegiatan perkebunan.
“Karena gempa di Sumatera-Aceh pohon pada tumbang semua, kebunnya kena, alatnya juga ikutan,” imbuhnya.
Lanjutnya, selain perkebunan sawit, kawasan industri dan pertambangan di Sumatera ikut menghadapi risiko kerusakan aset akibat bencana.
Menurutnya, alat berat menjadi salah satu aset yang sulit dievakuasi ketika banjir bandang datang secara cepat.
“Waktu terjadi banjir bandang kan tidak sempat menyelamatkan alat beratnya. Kalau dimobilisasi cepat tidak mungkin, sedangkan banjirnya cepat,” ujar Koen.
Kondisi tersebut membuat potensi klaim asuransi menjadi lebih besar ketika bencana menerjang wilayah yang memiliki konsentrasi aset industri dan perkebunan tinggi.
Koen mengatakan sebagian nasabah korporasi Tripa, termasuk perusahaan besar di sektor perkebunan, memiliki aset di wilayah yang terdampak bencana di Sumatera. Hal ini turut memengaruhi potensi klaim yang harus dihadapi perusahaan.
Strategi Tripa Hadapi Lonjakan Klaim
Menghadapi risiko bencana yang sulit diprediksi, Koen mengatakan perusahaan asuransi perlu menjaga kemampuan keuangan agar tetap mampu membayar klaim ketika terjadi lonjakan kerugian.
Baca juga: Berkat Strategi Ini, Rasio Klaim Tripa Turun Jadi 40 Persen
Sebab kata dia, klaim merupakan bagian dari risiko bisnis asuransi yang tak selalu dapat diprediksi kapan akan muncul. Karena itu, perusahaan perlu menjaga produksi atau pendapatan sekaligus mengendalikan biaya.
“Perusahaan asuransi tidak bisa diprediksi klaimnya. Jadi yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan poduksi banyak untuk menjaga klaim,” jelasnya.
Ia mengatakan peningkatan produksi diperlukan agar perusahaan memiliki pendapatan dan kemampuan laba yang memadai ketika harus menghadapi klaim dalam jumlah besar.
Selain meningkatkan produksi, efisiensi juga menjadi faktor penting. Tripa, kata Koen, harus menjaga agar biaya operasional tidak membengkak sehingga perusahaan memiliki ruang finansial untuk menghadapi risiko klaim.
“Yang kedua, efisiensi. Kita nggak boleh boros-boros di biaya karena bagian terpenting dari biaya itu klaim sebenarnya yang nanti muncul,” tuturnya.
Koen menegaskan, tingkat keamanan portofolio properti secara teori tidak menjamin perusahaan sepenuhnya terbebas dari risiko. Bencana alam dapat berdampak secara luas terhadap berbagai jenis aset yang diasuransikan.
“Secara teori aman, tapi tiba-tiba seperti tadi, terasa semua properti kita juga kena,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


