Poin Penting
- BTN membidik Gen Z berpenghasilan Rp8 juta-Rp15 juta untuk memiliki hunian vertikal di pusat Jakarta
- Hunian Manggarai ditawarkan Rp500 juta-Rp600 juta dengan akses dekat transportasi publik
- Proyek Manggarai mencakup 3.784 unit dalam delapan tower dan ditargetkan rampung 18 bulan.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN membidik Gen Z berpenghasilan Rp8-15 juta per bulan memiliki hunian vertikal di pusat kota.
Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu mengatakan kelompok masyarakat dengan pendapatan tersebut merupakan salah satu segmen terbesar dalam piramida pasar potensial hunian.
Ia menilai, kemampuan membeli hunian vertikal juga bisa diperhitungkan berdasarkan pendapatan pasangan.
“Kalau kamu antara Rp8 juta sampai Rp15 juta, itu paling banyak di piramida. Dan itu boleh di-joint sama istri. Boleh pasangan, Rp14 juta itu,” ujar Nixon, saat Groundbreaking hunian vertikal di kawasan Manggarai, beberapa waktu lalu.
Nixon mengungkapkan, kebutuhan memiliki hunian di Ibu Kota masih cukup tinggi, termasuk di kalangan generasi muda.
Karena itu, keberadaan hunian dengan harga relatif terjangkau di pusat kota dinilai bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mendapatkan rumah di Jakarta.
Baca juga: BTN Siapkan KPR 40 Tahun Bunga Flat 6 Persen untuk Hunian Manggarai
“Saya tanya balik aja, kamu mau enggak punya rumah di Jakarta? Mau dong. That’s why, this is the answer. Kamu mau cari di mana lagi?” bebernya.
Harga Hunian Rp500-600 Jutaan
Salah satu daya tarik hunian yang dikembangkan BTN yakni lokasi di pusat kota dengan kisaran harga Rp500 juta hingga Rp600 juta.
Menurutnya, harga tersebut relatif kompetitif apabila dibandingkan dengan harga rumah di kawasan pinggiran Jakarta.
Tak hanya itu, lokasi hunian yang dekat dengan pusat aktivitas dan transportasi publik menjadi nilai tambah bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Pusat kota, harga Rp500 hingga Rp600 jutaan cari di mana? Cari di pinggir kota aja sudah lebih dari itu. Mall deket, stasiun deket. Iya kan?” terangnya.
Baca juga: KAI Groundbreaking Hunian Manggarai, 3.784 Unit Rumah untuk MBR
Sebelumnya, pembangunan hunian vertikal terjangkau di kawasan Manggarai, Jakarta resmi dimulai. Proyek yang memanfaatkan aset lahan milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) tersebut diperuntukkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai bagian dari dukungan terhadap program 3 juta rumah.
Sementara, Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, pembangunan hunian Manggarai bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dalam mengoptimalkan aset perkeretaapian agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Aset perkeretaapian yang strategis dapat dioptimalkan secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan tetap menempatkan keselamatan dan kelancaran layanan kereta api sebagai prioritas utama,” ujar Bobby dalam acara groundbreaking Hunian Manggarai, Jumat, 21 Agustus 2026.
Bobby menjelaskan, pembangunan hunian Manggarai berpegang pada tiga prinsip utama, yakni layak, terjangkau, dan berkelanjutan. Dari sisi kelayakan, proyek ini memiliki standar keselamatan, kualitas, kenyamanan, dan fungsi hunian.
Proyek Hunian Manggarai bakal dibangun di dua blok, yakni Blok G dan Blok F, dengan luas total sekitar 2,2 hektare.
Blok G sendiri memiliki luas sekitar 7.000 meter persegi, sedangkan Blok F sekitar 1,5 hektare. Lahan tersebut merupakan aset PT KAI dengan status HP/HPL.
Bobby menyebut, hunian vertikal tersebut terdiri atas delapan tower dengan bangunan setinggi 24 lantai. Total terdapat 3.784 unit hunian, yang terdiri atas 1.276 unit di Blok G dan 2.508 unit di Blok F
Pembangunan seluruh proyek kata Bobby ditargetkan berlangsung selama 18 bulan sejak groundbreaking, pada Jumat, 21 Agustus 2026. (*)
Editor: Galih Pratama


