Poin Penting
- Hunian vertikal terjangkau di Manggarai resmi dibangun untuk mendukung program 3 juta rumah bagi MBR
- Proyek di lahan PT KAI ini mencakup 8 tower, 3.784 unit hunian, dan 150 unit ritel
- Pembangunan ditargetkan rampung dalam 18 bulan dengan konsep layak, terjangkau, dan berkelanjutan.
Jakarta – Pembangunan hunian vertikal terjangkau di kawasan Manggarai, Jakarta resmi dimulai. Proyek yang memanfaatkan aset lahan milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) tersebut diperuntukkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai bagian dari dukungan terhadap program 3 juta rumah.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, pembangunan hunian Manggarai bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dalam mengoptimalkan aset perkeretaapian agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Aset perkeretaapian yang strategis dapat dioptimalkan secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan tetap menempatkan keselamatan dan kelancaran layanan kereta api sebagai prioritas utama,” ujar Bobby dalam acara groundbreaking Hunian Manggarai, Jumat, 21 Agustus 2026.
Bobby menjelaskan, pembangunan hunian Manggarai berpegang pada tiga prinsip utama, yakni layak, terjangkau, dan berkelanjutan. Dari sisi kelayakan, proyek ini memiliki standar keselamatan, kualitas, kenyamanan, dan fungsi hunian.
Baca juga: Tiru Konsep Jepang, BTN-KAI Bangun Hunian Berbasis TOD di Kawasan Manggarai
Sementara sisi keterjangkauan, menitikberatkan pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi sasaran.
Adapun prinsip keberlanjutan diterapkan melalui pemanfaatan lahan secara efisien, keterhubungan dengan transportasi massal, kepatuhan terhadap lingkungan, serta pengelolaan kawasan dalam jangka panjang.
Memiliki 3.784 Unit
Dalam pemaparannya, proyek Hunian Manggarai bakal dibangun di dua blok, yakni Blok G dan Blok F, dengan luas total sekitar 2,2 hektare.
Baca juga: Transformasi KAI Berbuah Manis, Penumpang Tembus 128 Juta di Kuartal I 2026
Blok G sendiri memiliki luas sekitar 7.000 meter persegi, sedangkan Blok F sekitar 1,5 hektare. Lahan tersebut merupakan aset PT KAI dengan status HP/HPL.
Bobby menyebut, hunian vertikal tersebut terdiri atas delapan tower dengan bangunan setinggi 24 lantai. Total terdapat 3.784 unit hunian, yang terdiri atas 1.276 unit di Blok G dan 2.508 unit di Blok F.
“Konsepnya adalah akan ada 3 plus 5 hunian vertikal yang terdiri dari 24 lantai dengan total 3.784 unit hunian, terdiri dari 1.276 unit di Blok G dan 2.508 unit di Blok F, serta nantinya dilengkapi dengan 150 unit ritel pendukung yaitu 72 unit di Blok G dan 78 unit di Blok F,” bebernya.
Pembangunan seluruh proyek kata Bobby ditargetkan berlangsung selama 18 bulan sejak groundbreaking, pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Lanjut Bobby, blok G akan memiliki tiga tower. Rinciannya, Tower A terdiri atas 352 unit, Tower B sebanyak 418 unit, dan Tower C sebanyak 506 unit.
Pilihan hunian di blok ini mencakup studio seluas 28 meter persegi, tipe 36 dengan dua kamar tidur, serta tipe 45 dengan dua kamar tidur.
Sementara itu, Blok F akan terdiri atas lima tower. Tower 1 dan 2 masing-masing memiliki 572 unit. Tower 3 memiliki 528 unit, Tower 4 sebanyak 308 unit, dan Tower 5 sebanyak 528 unit.
Hunian di Blok F tersedia dalam tipe 36 dan tipe 45 dengan dua kamar tidur serta tipe 52 dengan tiga kamar tidur. (*)
Editor: Galih Pratama


