Poin Penting
- Pelemahan rupiah ke level Rp17.500 dipicu sentimen global dan konflik geopolitik di Timur Tengah.
- Ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998 karena fundamental dinilai lebih kuat.
- Pelaku usaha disarankan melakukan lindung nilai (hedging), sementara arah rupiah masih bergantung pada perkembangan konflik global.
Jakarta – Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, angkat bicara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp17.500 pada Selasa (13/5).
Menurut Josua, pelemahan mata uang Garuda tersebut dipicu sentimen global, khususnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran.
“Sentimen global khususnya dari perang Timur Tengah ini, karena memang sebelumnya sudah ada gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat karena memang dari masing-masing pihak belum ada titik temunya,” ujar Josua, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat di Level Rp17.514 per dolar AS
Josua menjelaskan, dampak konflik geopolitik cukup terasa bagi negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap minyak mentah.
Bahkan, gejolak global dinilai lebih cepat memengaruhi Indonesia karena tingginya sensitivitas ekonomi domestik terhadap harga energi dan pergerakan dolar AS.
“Dampak perlambatannya pun relatif lebih cepat dampaknya kepada nilai tukar rupiah kita,” jelasnya.
Fundamental Ekonomi RI Dinilai Lebih Kuat
Meski rupiah melemah, Josua menegaskan kondisi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1997-1998 karena fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih kuat.
“Kondisi fundamental kita dari sisi utang luar negeri pemerintah maupun dari cadangan devisa, ini jauh berbeda kondisinya semuanya. Sehingga kita tidak bisa membandingkan sekali pun dengan kondisi saat ini dengan pada saat krisis moneter tahun 97-98 lalu,” imbuhnya.
Baca juga: Rupiah Babak Belur ke Rp17.500, BI Beberkan Biang Keroknya
Ia pun meminta masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah saat ini.
Sementara itu, pelaku usaha yang memiliki eksposur terhadap valuta asing disarankan menggunakan instrumen lindung nilai atau hedging sebagai langkah mitigasi risiko.
Arah Rupiah Bergantung Konflik Timur Tengah
Menurut Josua, arah pergerakan rupiah ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Apabila ketegangan mereda, dirinya memperkirakan, harga minyak mentah dapat turun ke bawah USD100 per barel sehingga memberi ruang bagi penguatan rupiah. (*)
Editor: Yulian Saputra


