Poin Penting
- Bank Indonesia optimistis rupiah akan kembali stabil dan menguat melalui tujuh langkah stabilisasi serta intervensi di pasar domestik dan global
- Pelemahan rupiah dipicu konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, menguatnya dolar AS, serta naiknya imbal hasil US Treasury 10 tahun mendekati 4,5 persen
- BI menilai tekanan terhadap rupiah juga dialami banyak mata uang global seperti baht Thailand, peso Filipina, rupee India, hingga won Korea akibat dinamika ekonomi dunia.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) optimis nilai tukar rupiah akan kembali menguat dan stabil. Hal ini sejalan dengan berbagai langkah intervensi yang di tempuh oleh Bank Sentral dalam mengendalikan nilai tukar mata uang rupiah.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, BI meyakini langkah-langkah stabilisasi yang saat ini sedang ditempuh dapat menjaga stabilitas dan menguatkan rupiah.
“BI sangat menyadari kondisi ini, sehingga BI terus menguatkan apa yang disebut tujuh langkah BI dalam membuat rupiah itu stabil dan cenderung menguat,” ujar Denny saat ditemui di Kantor Pusat Bank Indonesia, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga: BI Klaim Tren Peredaran Uang Palsu Terus Menurun
Denny menyampaikan, optimisme tersebut tercermin kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih baik dibandingkan negara-negara lainnya.
“BI akan terus berada di pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Jadi begitu pasar Jakarta tutup, kita stand-by di pasar Eropa, kita kemudian stand-by di pasar Amerika, untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah yang kalau di luar negeri dipengaruhi oleh transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) itu tetap stabil,” ungkap Denny.
Selain itu, BI juga bersinergi bersama dengan kementerian dan lembaga terkait akan membantu rupiah kembali ke kondisi yang stabil dan menguat.
“Kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian dan lembaga itu mampu nanti membuat rupiah akan stabil dan juga cenderung menguat. Karena tidak ada alasan untuk rupiah tidak stabil,” jelasnya.
Penyebab Rupiah Tertekan
Denny menuturkan, melemahnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhir Februari 2025. Kondisi tersebut turut mendorong harga minyak dunia melonjak. Di mana kenaikan harga minyak sejak pecahnya perang tercatat naik lebih dari 40 persen.
Selain itu, pelemahan rupiah ini juga disebabkan oleh kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury 10 tahun.
“Kalau kita lihat sekarang US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5 persen, akhir Februari masih sekitar 4 persen ada kenaikan sekitar 10 persen, termasuk juga dengan kecenderungan menguatnya indeks dolar,” jelasnya.
Denny juga menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga disebabkan oleh tingginya permitaan terhadap dolar karena pembagian dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan bagi Jemaah Haji.
Baca juga: Rupiah Babak Belur ke Rp17.500, BI Beberkan Biang Keroknya
Pelemahan Mata Uang Terjadi di Sejumlah Negara
Menurutnya, pelemahan nilai tukar juga tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan sejumlah negara lainnya seperti Filipina, Thailand, hingga Amerika Selatan juga mengalami pelemahan.
“Dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah tidak hanya rupiah. Ada Filipina peso, ada Thailand baht, ada India rupee, ada mata uang Amerika Selatan, Chili, Korea won, kira-kira seperti itu ya,” paparnya. (*)
Editor: Galih Pratama


