Poin Penting
- Rupiah melemah ke Rp17.529/USD akibat tekanan global dari konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak
- Tekanan juga datang dari faktor musiman domestik seperti pembayaran utang, dividen, dan kebutuhan valas haji
- BI menilai tekanan sementara, ditopang inflow asing Rp61,6 triliun dan likuiditas valas yang tetap kuat.
Jakarta – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan hari ini rupiah berada di level Rp17.529 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,66 persen.
Mersepons hal tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan, tekanan rupiah meningkat disebabkan oleh masih berlangsungnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong melonjaknya harga minyak dan ketidakpastian global.
Sementara dari domestik, kata Destry, meningkatnya kebutuhan dolar AS secara musiman, seperti untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN), pembayaran dividen, serta kebutuhan untuk ibadah haji juga turut mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Purbaya Turun Gunung Bantu BI
“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF), dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada Rupiah,” kata Destry dalam keterangannya, Selasa 12 Mei 2026.
Di samping itu, Destry melihat kepercayaan investor asing pada aset portofolio di pasar keuangan RI membaik. Hal ini tercermin dari arus modal asing masuk (inflows), khususnya Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama April 2026 tercatat sebesar Rp61,6 triliun.
Baca juga: Rupiah Anjlok ke Rp17.500 per USD, Purbaya Yakin Fiskal Masih Aman
Selain itu, ketersediaan likuiditas valuta asing (valas) di pasar domestik juga cukup tinggi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas di akhir Maret mencapai 10,9 persen secara year-to-date (ytd).
“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” ujar Destry. (*)
Editor: Galih Pratama


